Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Prahmana Riza, Kader Lingkungan Kota Surabaya: Nenek Pegiat Lingkungan yang Berawal dari Kesadaran Pribadi

Hildan Sepka • Minggu, 31 Desember 2023 | 16:37 WIB
Photo
Photo

USIANYA tak lagi muda, tapi semangatnya masih menyala. Terutama dalam pengelolaan lingkungan.

Namanya adalah Prahmana Riza, lebih akrab dipanggil Nenek. Tidak ada salahnya dipanggil Nenek, karena Prahmana Riza memang sekarang ini sudah memiliki enam cucu.

“Kok bisa dipanggil Nenek karena waktu itu, kami kader lingkungan diajak ke Malang bersama rombongan. Dalam satu kamar 6-7 orang, saya pertama yang punya cucu, lainnya muda-muda. Saya menceritakan cucu saya pertama belajar bicara dan menyanyi lagu Cicak-Cicak di Dinding, tapi pengucapannya salah menjadi Dindinding, mereka ketawa, semua bilang dasar Nenek,” ujarnya, Rabu (27/12).

Pada Februari 2024 nanti usianya 67 tahun. Beragam aksi nyata lingkungan hidup terus dilakukannya setiap hari.

Mulai dari mengurangi sampah non organik hingga pengolahan sampah yang dihasilkan.

BERKAT KERJA KERAS: Prahmana Riza saat menerima apresiasi kader lingkungan dari DLH Surabaya.
BERKAT KERJA KERAS: Prahmana Riza saat menerima apresiasi kader lingkungan dari DLH Surabaya.

“Bahkan saya dulu setiap kali pertemuan, ada sampah plastik gelas minuman, selalu saya bawa pulang. Minimal di dalam tas saya ada 3, kalau ada kardus ya, saya bawa. Pernah sesekali ada yang ngerasani, tapi nggakpapa,” ungkap Nenek.

Dia adalah pejuang lingkungan hidup Kota Surabaya. Kepeduliannya terhadap lingkungan sudah dimulai sejak kecil. Tapi, dia mulai mengabdikan diri untuk lingkungan berawal pada 2005 silam.

“Sejak sekolah dasar kita diajarkan bahwa kebersihan sebagian dari iman. Ya itu yang kita lakukan jadi terbiasa sampai sekarang,” ucapnya

Pada 2006, ibu empat anak itu mulai aktif dalam kegiatan lingkungan. Nenek menjadi pemateri tentang pengelolaan sampah. Penyampaiannya yang jelas dan lugas membuat pendengar antusias.

“Saat itu di Sidoarjo, saya diminta mengisi acara sebagai pemateri. Saya diberi durasi sejam, tapi mereka minta tambahan waktu,” kenangnya.

Menurutnya, yang terpenting adalah memilah sampah dari rumah. Yaitu memisahkan sampah kering dan basah.

Upayanya itu bisa mengurangi beban tempat pembuangan sementara (TPS) dan tempat pembuangan akhir (TPA).

“Akhirnya, saat kepemimpinan Pak Bambang DH dibentuk kader lingkungan. Kita tersebar di masing-masing wilayah, saya wilayah selatan,” ucapnya.

Perempuan kelahiran 1957 itu menyebutkan, selama menjadi kader, murni dari kecintaannya terhadap lingkungan.

Sehingga, dia menyadari untuk tidak memaksa siapa pun. Sebab, pengelolaan lingkungan berasal dari kesadaran warga yang peduli terhadap sekitar.

“Semangat peduli lingkungan masyarakat di Kota Surabaya sudah membaik tiap tahun, tapi ini harus tetap dijaga dan ditingkatkan,” kata Nenek.

PENGKADERAN: Kepedulian dan kecintaan terhadap lingkungan juga ditularkan Prahmana Riza kepada generasi muda.
PENGKADERAN: Kepedulian dan kecintaan terhadap lingkungan juga ditularkan Prahmana Riza kepada generasi muda.

Nenek Riza mengaku gemar berinteraksi dengan banyak orang. Katanya, itu seolah menjadi hobinya. Pesan peduli lingkungan hidup selalu

“Pengolahan sampah menjadi tema yang biasanya saya sosialisasikan. Selain itu, kita selalu sampaikan dari sampah menjadi berkah,” papar nenek warga Karah itu.

Nenek selalu terlibat dalam kegiatan lingkungan hidup di Surabaya. Mulai dari Merdeka Dari Sampah (MDS), Surabaya Green &Clean, Surabaya Smart City (SSC), hingga Kampung Surabaya Hebat (KSH). Perannya cukup besar untuk menggerakkan semangat warga di wilayah Selatan.

“Pada lomba yang diselenggarakan rutin setiap tahun, saya bersama relawan lingkungan dan fasilitator lingkungan Kota Surabaya lainnya juga mendampingi kampung-kampung di Surabaya. Saya mendampingi khususnya wilayah selatan agar terlibat aktif,” urainya.

Menurutnya, lomba lingkungan adalah cara paling efektif. Yaitu untuk menjaga semangat peduli lingkungan hidup di masyarakat. Sekaligus, untuk menjaga kesadaran terhadap perilaku bersih dan sehat.

Alhamdulillah, pada lomba KSH 2023, salah satu kampung di wilayah Selatan menjadi juara pertama. Saya merasa bangga bila ada kampung yang saya bina menjadi berhasil meraih juara karena kepedulian nyata pada lingkungan. Kalau bekerja keras, tulus, ikhlas pasti ada hasilnya,” pungkas Nenek Riza. (hil/rak)

Editor : Nurista Purnamasari
#kader lingkungan #surabaya #Person of the year 2023