Pelemahan tajam ini cukup mengejutkan mengingat pergerakan nilai tukar pada awal bulan sebenarnya dibuka dalam kondisi yang relatif stabil dan terkendali.
Pada perdagangan awal bulan, tepatnya tanggal 1 Oktober 2026, kurs JISDOR mencatatkan posisi rupiah di level Rp17.937 per dolar AS. Pada periode tersebut, aktivitas transaksi di pasar valuta asing masih cenderung tenang dengan fluktuasi pasokan dan permintaan valas yang relatif seimbang di pasar domestik.
Tren positif mata uang Garuda bahkan sempat berlanjut hingga memasuki akhir pekan pertama bulan Oktober.
Didorong oleh sentimen positif internal serta intervensi terukur dari Bank Indonesia, rupiah berhasil menguat perlahan hingga mencapai titik terkuatnya pada tanggal 7 Oktober 2026.
Pada hari itu, grafik transaksi mencatat kurs JISDOR menyentuh level terendahnya dalam rentang bulan ini di posisi Rp17.880 per dolar AS, yang sempat memberikan optimisme bagi para pelaku pasar domestik.
Namun, memasuki pekan kedua Oktober 2026, dinamika pasar mulai menunjukkan sinyal konsolidasi dan perubahan arah pergerakan. Sepanjang tanggal 8 hingga 14 Oktober 2026, mata uang rupiah terlihat bergerak mengambang dengan rentang variasi yang tipis di kisaran Rp17.890 hingga Rp17.930 per dolar AS.
Kondisi ini mencerminkan sikap wait and see dari para investor global yang menantikan rilis data-data ekonomi penting dari Amerika Serikat serta kejelasan arah kebijakan suku bunga acuan dari Bank Sentral AS (The Fed).
Arah angin pergerakan nilai tukar berubah drastis memasuki dua hari terakhir perdagangan pada pekan tersebut. Laju penguatan dolar AS tidak terbendung seiring dengan meningkatnya tekanan eksternal, membuat kurs JISDOR melesat cepat dari posisi Rp17.898 pada 14 Oktober menjadi Rp17.948 per dolar AS pada 15 Oktober 2026.
Tekanan ini kian memuncak pada penutupan pekan, di mana rupiah mengalami aksi lepas aset yang masif hingga akhirnya menembus level psikologis baru.
Lonjakan dari Rp17.948 menjadi Rp18.052 per dolar AS pada Jumat, 16 Oktober 2026, menandai salah satu lonjakan harian tertinggi dalam kurun waktu beberapa pekan terakhir.
Para pengamat ekonomi menilai pelemahan tajam ini dipicu oleh kombinasi faktor global, termasuk meningkatnya eskalasi geopolitik di beberapa kawasan serta penyesuaian portofolio oleh investor asing yang beralih mengamankan dana mereka ke dalam aset berrisiko rendah (safe haven) seperti dolar AS.
Menanggapi lonjakan kurs yang menembus angka Rp18.000 tersebut, fokus pasar kini tertuju pada respons dan langkah antisipasi dari otoritas moneter.
Bank Indonesia diperkirakan akan terus mengoptimalkan strategi triple intervention baik di pasar spot, pasar DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward), maupun pembelian SBN di pasar sekunder guna meredam volatilitas yang berlebihan, menjaga kecukupan likuiditas valas, serta mengembalikan kepercayaan pelaku pasar terhadap stabilitas mata uang rupiah. (nov/han)