BI Catat NPI Triwulan II 2026 Membaik, Cadangan Devisa Capai 145,6 Miliar Dolar AS

Hany Akasah • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 11:10 WIB
ILUSTRASI: Neraca Pembayaran Indonesia dan stabilitas ekonomi Bank Indonesia triwulan II 2026.
ILUSTRASI: Neraca Pembayaran Indonesia dan stabilitas ekonomi Bank Indonesia triwulan II 2026.

RADAR SURABAYA BISNIS — Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan II 2026 tetap terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi. 

Bank Indonesia (BI) mencatat defisit NPI menyusut signifikan menjadi 0,9 miliar dolar AS, turun tajam dibandingkan triwulan I 2026 yang mengalami defisit sebesar 9,1 miliar dolar AS.

Departemen Komunikasi Bank Indonesia dalam keterangan resminya menyampaikan, membaiknya ketahanan eksternal ini tercermin dari posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2026 yang terjaga sebesar 145,6 miliar dolar AS. 

Baca Juga: Pemprov Jatim Kirim 64,4 Ton Bantuan Gelombang Kedua untuk Korban Gempa NTT

Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,4 bulan impor beserta pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh melampaui standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Kinerja positif NPI ditopang oleh surplus transaksi modal dan finansial yang mencapai 12,0 miliar dolar AS, berbalik arah setelah pada triwulan sebelumnya mencatat defisit 4,8 miliar dolar AS. 

Lonjakan ini didorong oleh derasnya aliran modal masuk melalui investasi langsung (foreign direct investment) dan investasi portofolio, seiring persepsi positif investor terhadap prospek ekonomi domestik serta imbal hasil instrumen keuangan yang menarik.

Baca Juga: BAZNAS Perkirakan Kerugian Gempa NTT Capai Rp2,2 Triliun, Fokus Pulihkan Mustahik

Sementara itu, transaksi berjalan pada triwulan II 2026 tercatat defisit sebesar 12,5 miliar dolar AS (3,3 persen dari PDB), meningkat dari defisit 3,6 miliar dolar AS (1,0 persen dari PDB) pada triwulan sebelumnya. 

Kenaikan defisit ini dipengaruhi oleh faktor temporer, antara lain peningkatan impor minyak akibat tingginya harga minyak dunia, naiknya impor nonmigas guna memenuhi kebutuhan ekonomi dalam negeri, serta peningkatan defisit neraca pendapatan primer.

Ke depan, Bank Indonesia memproyeksikan kinerja NPI tetap solid guna mendukung ketahanan eksternal nasional. Prospek tersebut didukung oleh membaiknya kinerja ekspor seiring kenaikan harga komoditas unggulan global, dampak positif penurunan tarif resiprokal Amerika Serikat, serta berlanjutnya aliran investasi asing. 

Baca Juga: Tunjangan Guru Jatim Rp274,57 Miliar Belum Dibayar, Bagaimana Nasibnya di APBD 2026

Sinergi kebijakan antara Pemerintah dan Bank Indonesia juga akan terus diperkuat untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Editor : Hany Akasah
Sumber : Radar Surbaya Bisnis
neraca pembayaran indonesia bank indonesia surplus cadangan devisa triwulan II