radarsurabayabisnis.id - Utang luar negeri (ULN) Indonesia meningkat 4,4 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi US$453,4 miliar pada kuartal II 2026.
Bank Indonesia (BI) menyebut peningkatan tersebut terutama dipengaruhi pertumbuhan ULN sektor publik, yakni utang pemerintah dan bank sentral. Di sisi lain, ULN swasta justru mengalami penurunan.
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan ULN pemerintah tercatat sebesar US$216,3 miliar atau tumbuh 2,9 persen secara tahunan.
Pertumbuhan tersebut terutama didorong aliran masuk investasi pada Surat Berharga Negara (SBN). Menurut BI, kondisi tersebut menunjukkan kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia tetap terjaga.
Baca Juga: Daftar 20 Negara dengan Utang Terbesar di Dunia 2026, Indonesia Urutan Berapa?
ULN Swasta Turun 0,6 Persen
Berbeda dengan sektor publik, ULN swasta pada kuartal II 2026 tercatat sebesar US$194,6 miliar. Angka tersebut mengalami kontraksi 0,6 persen secara tahunan.
Penurunan ULN swasta menunjukkan adanya pelemahan pertumbuhan pembiayaan eksternal sektor swasta dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski demikian, BI menilai perkembangan ULN Indonesia secara keseluruhan masih berada dalam kondisi yang sehat.
Rasio ULN terhadap PDB 30,6 Persen
BI mencatat rasio ULN Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) berada di level 30,6 persen. Selain itu, struktur ULN Indonesia masih didominasi oleh utang dengan tenor jangka panjang.
Baca Juga: Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp 7.685 Triliun pada Triwulan I 2026
Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator yang membuat BI menilai risiko ULN Indonesia masih terkendali.
Dengan pertumbuhan ekonomi dan struktur utang yang relatif terjaga, BI terus memantau perkembangan ULN untuk memastikan pembiayaan eksternal tetap mendukung perekonomian nasional tanpa menimbulkan tekanan berlebihan terhadap stabilitas keuangan.
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Surabaya