Pembiayaan Perbankan Syariah Tembus Rp720 Triliun, BI Terus Genjot Akses Modal Korporasi

Hany Akasah • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 11:51 WIB
Pejabat BI dan tokoh terkait di Forum Strategis Pembiayaan Syariah, Jakarta (12/8/2026).
Pejabat BI dan tokoh terkait di Forum Strategis Pembiayaan Syariah, Jakarta (12/8/2026).

RADAR SURABAYA BISNIS – Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa penguatan konektivitas antara industri halal dan industri keuangan syariah merupakan kunci utama dalam memperluas akses pembiayaan bagi korporasi. Langkah ini dinilai strategis untuk mendukung investasi dan ekspansi usaha yang kompetitif, inovatif, serta berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikan oleh Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia, Destry Damayanti, dalam kegiatan "Forum Strategis Pembiayaan Syariah untuk Ekspansi Korporasi" di Jakarta, pada Rabu (12/8/2026).

"Pembiayaan syariah perlu menjadi pilihan strategis dan kompetitif bagi investasi dan ekspansi korporasi. Untuk itu, perlu dibangun pipeline pembiayaan yang bankable, terukur, dan berkelanjutan," ujar Destry.

Baca Juga: Prabowo Murka! Koruptor MBG Disebut Biadab dan Tak Punya Kemanusiaan

Ia juga menekankan pentingnya pendalaman pasar keuangan syariah, perluasan kapasitas instrumen, serta penguatan tata kelola dan manajemen risiko.

Sebagai langkah konkret, dalam forum tersebut Bank Indonesia juga menggelar business matching yang mempertemukan 20 Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS) dengan 51 korporasi. Inisiatif ini bertujuan untuk menjajaki solusi pembiayaan riil yang sesuai dengan kebutuhan ekspansi dunia usaha.

Dukungan terhadap korporasi juga disuarakan oleh Kepala Badan Ekonomi Syariah KADIN Indonesia, Titi Khoiriah. Ia menyoroti pentingnya ketersediaan pembiayaan syariah jangka panjang dengan skema dan tenor yang tepat untuk mendukung ekspansi bisnis.

Baca Juga: Tiga Lahan Sempat Bermasalah, Kini Seluruh Data Flyover Gedangan Sudah Beres

Senada dengan hal tersebut, Ketua Hubungan Bisnis Asbisindo sekaligus Wakil Direktur Utama Bank Syariah Indonesia, Bob Tyasika Ananta, menyebutkan bahwa pendekatan berbasis ekosistem sangat diperlukan. 

"Pendekatan ini memungkinkan perbankan syariah memperluas pembiayaan untuk modal kerja, sekaligus membangun hubungan jangka panjang dengan dunia usaha dengan menghubungkan korporasi dan rantai pasoknya," jelasnya.

Momentum perluasan pembiayaan syariah ini didukung oleh catatan kinerja positif industri keuangan syariah nasional. Berdasarkan data per Juni 2026, pembiayaan perbankan syariah tercatat mencapai Rp720 triliun atau tumbuh 11,43% secara tahunan (year-on-year/yoy). Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) juga naik 13,13% (yoy) menjadi Rp816 triliun.

Baca Juga: Kemnaker Dorong Talenta Muda Bangun Startup Lewat Program TIDP

Di sektor riil, rantai pasok halal juga mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,5%, diiringi dengan posisi outstanding sukuk korporasi yang mencapai sekitar Rp95 triliun. 

Angka-angka ini menunjukkan terbukanya ruang yang semakin lebar bagi pembiayaan syariah dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Melalui sinergi antarlembaga—termasuk OJK, Kemenperin, Kementerian Investasi/BKPM, KNEKS, Asbisindo, IAEI, dan KADIN—Bank Indonesia berharap realisasi pembiayaan syariah ke sektor riil dapat terus dipercepat.

Baca Juga: Ini Deretan Fitur Canggih Apple Device yang Bikin Kerja Makin Produktif

Editor : Hany Akasah
Sumber : radar surabaya bisnis
korporasi bank indonesia industri halal bank keuangan syariah