RADAR SURABAYA BISNIS – Hari gajian kerap menjadi momen yang paling ditunggu oleh para pekerja muda. Namun, siklus keuangan pascagajian kini sering kali diwarnai dengan alokasi khusus untuk self-reward atau penghargaan diri.
Mulai dari berbelanja barang impian, nongkrong di kedai kopi kekinian, hingga berlangganan layanan digital, pengeluaran ini kerap diklaim sebagai bentuk 'healing' setelah sebulan penuh bekerja keras.
Di satu sisi, kebiasaan ini sering mendapat stigma sebagai perilaku konsumtif. Namun bagi banyak Generasi Z (Gen Z), self-reward memiliki makna yang lebih kompleks di tengah tekanan ekonomi masa kini.
Baca Juga: Lampaui Target, Literasi Keuangan Masyarakat Indonesia Tahun 2026 Terus Meningkat
Bella (28), seorang pekerja di Jakarta, mengakui bahwa usai menyelesaikan kewajiban primer seperti membayar sewa hunian, ia kerap menyisihkan dana untuk membeli barang yang ia sukai, seperti kosmetik.
Meski menyadari terkadang impulsif, ia menjadikan self-reward sebagai cara menikmati jerih payahnya tanpa harus mengikuti standar hidup orang lain. Ia pun tetap memiliki rem finansial saat pengeluaran dirasa sudah melampaui batas.
Berbeda dengan Bella, Bayu (27) memilih pendekatan yang lebih terencana. Ia memprioritaskan kebutuhan pokok dan tabungan sebelum mengalokasikan sisa gajinya untuk hiburan.
Baca Juga: Tiket Kereta Diskon 17 Persen! Promo 17 Agustus 2026 KAI, Ini Jadwal Belinya
Bagi Bayu, hiburan seperti menonton bioskop atau mencoba kuliner baru adalah cara menjaga kesehatan mental dan mengurangi stres kerja.
Ia juga menyoroti realitas ekonomi saat ini. Lonjakan harga rumah yang tak sebanding dengan kenaikan upah membuat kepemilikan hunian terasa semakin sulit dicapai.
Kondisi ini yang terkadang mendorong pergeseran fokus finansial dari investasi jangka panjang ke kenyamanan psikologis jangka pendek.
Baca Juga: Tissa Biani dan Dul Jaelani Jelajahi Kota Lama Surabaya, Mampir ke Radar Surabaya
Menanggapi fenomena ini, Direktur Personal Growth sekaligus Psikolog Klinis Senior, Ratih Ibrahim, menjelaskan bahwa memberikan penghargaan pada diri sendiri pada dasarnya adalah hal yang sehat.
Self-reward yang terencana dan sesuai kemampuan finansial dapat meningkatkan motivasi dan kesejahteraan psikologis.
Namun, Ratih mengingatkan akan bahaya jika belanja dijadikan pelarian dari kecemasan atau stres. Kepuasan dari pelarian emosional ini hanya berlangsung sesaat dan berpotensi memicu penyesalan finansial di kemudian hari.
Baca Juga: Penjualan Mobil Juli 2026 Meledak 33 Persen, Target 850 Ribu Unit di Depan Mata
Paparan media sosial juga kerap menjebak pekerja muda dalam social comparison, di mana keputusan membeli barang didorong oleh keinginan agar diterima oleh lingkungan sosial, bukan atas dasar kebutuhan.
Lebih jauh, Ratih melihat adanya fenomena present bias di kalangan anak muda. Kecenderungan untuk lebih menghargai kesenangan saat ini dibandingkan manfaat jangka panjang muncul akibat rasa pesimisme terhadap masa depan.
Ketika target besar seperti membeli rumah terasa mustahil dicapai, motivasi untuk menabung bisa menurun tajam.
Baca Juga: Stok Beras Jatim Tembus 1,38 Juta Ton, Bisa Kirim Pasokan ke 17 Provinsi
Fenomena self-reward pada Gen Z sejatinya bukan sekadar masalah kurangnya disiplin diri. Hal ini merupakan respons psikologis yang kompleks terhadap ketidakpastian ekonomi, mahalnya biaya hidup, dan tuntutan pekerjaan.
Pemahaman dan literasi keuangan yang seimbang menjadi kunci agar self-reward tetap menjadi motivasi yang menyehatkan, bukan jebakan yang merugikan.
Editor : Hany AkasahSumber : radar surabaya bisnis