Target Ekonomi Tembus 6 Persen, Pemerintah Siapkan Stimulus Manufaktur dan Otomotif di Semester II

Hany Akasah • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 16:27 WIB
KINERJA APBN: Wamenkeu Juda Agung bahas optimisme ekonomi RI 2026 di program Top Economy Metro TV. (FOTO: Kemenkeu)
KINERJA APBN: Wamenkeu Juda Agung bahas optimisme ekonomi RI 2026 di program Top Economy Metro TV. (FOTO: Kemenkeu)

RADAR SURABAYA BISNIS – Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menyatakan optimismenya bahwa perekonomian Indonesia akan tetap mempertahankan momentum pertumbuhan yang kuat di sepanjang tahun 2026. 

Optimisme ini didukung oleh pengelolaan fiskal yang kredibel dan prudent (hati-hati) di tengah ketidakpastian kondisi global.

Hal tersebut disampaikan Wamenkeu dalam wawancara pada program Top Economy Metro TV. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan II 2026 diproyeksikan masih berada di atas angka 5 persen.

Baca Juga: Lelang Batubara Sitaan di Kaltim, ESDM Raup PNBP Rp20,9 Miliar

"Pertumbuhan di triwulan II ini sedikit lebih rendah dibanding triwulan I, tetapi gairah ekonomi masih berjalan dengan baik. PMI sudah menunjukkan ekspansi, sementara impor barang modal dan bahan baku meningkat, yang menandakan aktivitas produksi dan investasi terus tumbuh," ujar Juda Agung.

Lebih lanjut, pemerintah meyakini target pertumbuhan ekonomi tahun 2026 yang berada di kisaran 5,6 hingga 6,0 persen masih sangat realistis untuk dicapai. 

Untuk mendorong hal tersebut, berbagai stimulus akan digulirkan pada semester II, khususnya yang menyasar sektor manufaktur dan otomotif.

Baca Juga: Tampil di Kandang Sendiri, Yamaha Racing Indonesia Incar Kemenangan Seri 4 ARRC di Mandalika

Menanggapi terjadinya deflasi pada Juli 2026, Wamenkeu dengan tegas membantah asumsi bahwa hal tersebut disebabkan oleh melemahnya daya beli masyarakat.

"Kalau dilihat data kemarin, deflasi itu kan lebih banyak disebabkan oleh penurunan harga pangan khususnya bawang merah dan juga harga emas turun. Ini tidak mengindikasikan bahwa demand lemah. Apalagi ditambah PMI-nya naik," jelasnya.

Fundamental ekonomi yang kuat ini juga ditopang oleh kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang sehat. Juda memaparkan bahwa penerimaan negara mengalami kenaikan signifikan sebesar 24 persen. Kondisi ini memberikan ruang fiskal yang memadai sehingga belanja negara juga bisa tumbuh sekitar 17 persen

Baca Juga: Pesona Produk Kreatif Mitra Binaan Pertamina Tarik Perhatian di Surabaya Great Expo 2026

Hingga bulan Juni 2026, defisit APBN tercatat hanya sebesar 0,76 persen. Angka ini dinilai sangat terjaga dan menunjukkan pengelolaan fiskal yang sangat disiplin. 

Kedisiplinan inilah yang pada akhirnya memperkuat kepercayaan investor internasional terhadap instrumen pembiayaan pemerintah Indonesia dan menjaga peringkat kredit nasional.

"Artinya kita mampu tumbuh tinggi tanpa mengorbankan stabilitas. Inflasi terjaga, fiskal tetap sehat, dan ekonomi tetap bertumbuh di atas 5 persen," imbuhnya.

Baca Juga: 122 Bidang Terdampak Flyover Gedangan, Pemkab Sidoarjo Siapkan Rp450 Miliar untuk Ganti Rugi

Menyongsong Nota Keuangan Rancangan APBN (RAPBN) Tahun Anggaran 2027, Wamenkeu Juda menegaskan arah kebijakan ke depan. Pemerintah akan tetap menggunakan APBN sebagai instrumen pendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga kesinambungan fiskal.

"Jadi intinya 2027 kita tetap ekspansi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan terukur, namun dengan defisit yang semakin terkendali," pungkas Juda.

Editor : Hany Akasah
Sumber : radar surabaya bisnis
Wamenkeu harga pangan deflasi apbn Juda Agung