RADAR SURABAYA BISNIS — Bank Indonesia (BI) menekankan pentingnya transformasi pembiayaan dari sekadar mengejar pertumbuhan kredit menjadi pembiayaan yang lebih berkualitas dan berbasis ekosistem.
Langkah ini dinilai strategis untuk meningkatkan produktivitas, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat daya saing dunia usaha.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyampaikan bahwa kebijakan sektor keuangan tidak boleh berhenti pada level keputusan otoritas semata, melainkan harus dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat dan pelaku usaha di daerah.
Baca Juga: Pre-Order Samsung Galaxy Z Flip 8 Sekarang! Periode Promo 22 Juli – 13 Agustus di Blibli
"Dampak kebijakan harus dapat dirasakan manfaatnya oleh pelaku usaha, mulai dari perusahaan besar hingga pedagang, petani, pengrajin, dan wirausaha muda di berbagai daerah," ujar Destry saat menyampaikan keynote speech dalam seminar nasional "Menjaga Stabilitas, Memperkuat Sinergi, Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Melalui Pembiayaan Produktif" di Jakarta, Jumat (24/7/2026).
Untuk mendukung sektor-sektor prioritas, Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan seperti Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) dan Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM).
Selain itu, digitalisasi sistem pembayaran melalui QRIS, BI-FAST, dan SNAP terus diperluas untuk mempercepat integrasi UMKM ke dalam ekosistem keuangan digital.
Dukungan terhadap UMKM juga ditegaskan oleh Sekretaris Kementerian UMKM, Loto Srinaita Ginting. Menurutnya, pemerintah memperluas akses pembiayaan dan peningkatan daya saing UMKM melalui penguatan Kredit Usaha Rakyat (KUR), dukungan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga rencana pembentukan holding UMKM.
Dari sisi pengawasan, Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan UMKM dan Keuangan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Ayahandayani K., menambahkan bahwa OJK konsisten membangun ekosistem pembiayaan terintegrasi, memperkuat literasi dan inklusi keuangan, serta meningkatkan perlindungan konsumen.
Sementara itu, ekonom perbankan Josua Pardede menilai tren pertumbuhan kredit perbankan yang terus positif didorong oleh akselerasi digitalisasi UMKM. Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya memperluas pembiayaan ke sektor bernilai tambah tinggi seperti industri pengolahan.
Baca Juga: Gen Z Makin Dominasi Pekerjaan Informal, Pakar Peringatkan Risiko Jangka Panjang
Data Bank Indonesia mencatat pertumbuhan kredit pada Juni 2026 mencapai 12,67 persen (year-on-year/yoy), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 11,51 persen (yoy). Pertumbuhan ini terutama didukung oleh kredit investasi yang tumbuh signifikan hingga 24,90 persen (yoy).
BI memprakirakan pertumbuhan kredit sepanjang tahun 2026 akan tetap terjaga pada kisaran 8–12 persen, didukung potensi permintaan pinjaman yang masih besar serta pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan yang mencapai 10,21 persen (yoy).
Editor : Hany AkasahSumber : radar surabaya bisnis