Gen Z Makin Dominasi Pekerjaan Informal, Pakar Peringatkan Risiko Jangka Panjang

Hany Akasah • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 14:39 WIB
ILUSTRASI: Beberapa anak muda tampak fokus beraktivitas menggunakan gawai di area publik.
ILUSTRASI: Beberapa anak muda tampak fokus beraktivitas menggunakan gawai di area publik.
 
RADAR SURABAYA BISNIS — Pergeseran tren ketenagakerjaan di Indonesia semakin terlihat jelas. Generasi Z kini makin mendominasi sektor pekerjaan informal dan gig economy, mulai dari pekerja lepas (freelancer), content creator, pengemudi ojek online, hingga pelaku usaha mikro.

Fenomena ini dipicu oleh keterbatasan lapangan kerja formal serta daya tarik fleksibilitas jam kerja yang ditawarkan sektor informal. 

Namun, para pakar ekonomi mengingatkan pentingnya antisipasi terhadap perlindungan sosial dan stabilitas jangka panjang bagi pekerja muda.

Baca Juga: Berprestasi di R3 BLU CRU Asia Pacific Championship Mandalika, Yamaha Racing Indonesia Buktikan Talenta Masa Depan

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P. Sasmita, menilai fenomena ini bukan sepenuhnya pilihan bebas, melainkan bentuk adaptasi atas keterbatasan yang ada. 

Menurutnya, sektor gig economy menjadi sarana penampung ketika sektor formal belum optimal menyerap angkatan kerja baru.

"Dominasi sektor gig membawa risiko stagnasi produktivitas karena nilainya yang relatif rendah serta minim peningkatan keterampilan. Jika tidak dikelola dengan baik, ada potensi menghadapi generasi pekerja yang besar secara jumlah, tetapi rapuh secara ekonomi," ujar Ronny.

Baca Juga: Atasi Truk ODOL dan Emisi Karbon, Pemerintah Siapkan Insentif Konversi Truk Listrik

Di sisi lain, Pengamat Ekonomi Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menyoroti pentingnya kepastian jaminan sosial dan pendapatan. 

Mengutip data Next Policy, terdapat sekitar 2,41 juta pekerja digital transportasi pada tahun 2024, di mana mayoritas penghasilannya masih tergolong rendah untuk menopang kebutuhan jangka panjang seperti tabungan, KPR, maupun jaminan pensiun.

Syafruddin mendesak pemerintah agar tidak hanya memberikan label UMKM, melainkan juga membangun rezim perlindungan kerja dan standar produktivitas yang nyata bagi pekerja informal.

Baca Juga: Proyek Gas Lepas Pantai North Hub Dimulai, Siap Topang Target Produksi Migas Nasional 2028

"Agenda paling penting bukan mendorong lebih banyak anak muda masuk gig economy, tetapi memastikan pekerjaan gig menjadi jembatan menuju produktivitas dan kelas menengah, bukan ruang tunggu permanen di sektor informal," tegasnya.

Editor : Hany Akasah
Sumber : radar surabaya bisnis
pakar Gen Z pekerjaan sektor informal anak muda