RADAR SURABAYA BISNIS - Pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan tren pelemahan yang signifikan sepanjang paruh pertama bulan Juli 2026.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis oleh Bank Indonesia, mata uang Garuda terus mengalami tekanan eksternal maupun internal yang cukup kuat.
Puncaknya terjadi pada hari ini, Senin (13/07), di mana nilai tukar merosot hingga menyentuh angka Rp18.129,00 per 1 Dolar AS, menandai level terendah baru dalam periode berjalan.
Jika menilik ke belakang pada awal bulan, nilai tukar Rupiah sebenarnya sempat berfluktuasi secara dinamis di kisaran Rp17.900-an.
Pada tanggal 1 Juli 2026, kurs JISDOR tercatat berada di level Rp17.961,00, sebelum sedikit melemah ke Rp17.994,00 pada hari berikutnya. Meskipun sempat mengalami penguatan tipis menjadi Rp17.960,00 pada 3 Juli 2026, tren pelemahan kembali berlanjut di pekan berikutnya.
Pada tanggal 6 Juli, Rupiah bertengger di level Rp17.999,00 dan berhasil bertahan di Rp17.988,00 pada keesokan harinya.
Memasuki pertengahan pekan kedua, psikologis pasar mulai terganggu ketika Rupiah secara resmi menembus batas psikologis baru.
Baca Juga: Siap Tarik Jutaan Wisatawan, Begini Rencana Megah Restorasi Candi Prambanan hingga 2029
Pada tanggal 8 Juli 2026, mata uang domestik melemah ke angka Rp18.005,00, dan mengalami depresiasi yang kian tajam pada 9 Juli 2026 hingga mencapai Rp18.090,00.
Walaupun sempat terjadi koreksi teknis minor pada 10 Juli 2026 yang membawa Rupiah ke level Rp18.069,00, sentimen negatif global tampaknya kembali mendominasi pasar hingga memicu lonjakan drastis ke level Rp18.129,00 pada hari ini.
Para analis ekonomi menilai bahwa penembusan angka Rp18.000 dan berlanjut hingga Rp18.100-an ini dipicu oleh kombinasi ketidakpastian kebijakan moneter bank sentral AS (The Fed) serta ketegangan geopolitik global yang mendorong investor mengalihkan asetnya ke dalam mata uang yang lebih aman (safe haven) seperti Dolar AS.
Baca Juga: Kemnaker Wajibkan Perusahaan Terdaftar WLKP untuk MagangHub 2026, Catat Tanggal Pentingnya
Kondisi ini menuntut langkah intervensi taktis dan kebijakan yang terukur dari Bank Indonesia guna menjaga stabilitas makroekonomi serta menahan depresiasi Rupiah agar tidak berdampak lebih luas terhadap sektor riil dan inflasi domestik. (nov/han)
Editor : Hany Akasah