Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Ekonomi Indonesia 2026 Tumbuh 5,2 Persen, Tertinggi Kedua di ASEAN

Hany Akasah • Jumat, 10 Juli 2026 | 16:37 WIB
Dengan pertumbuhan sebesar 5,2 persen, Indonesia berada di bawah Vietnam yang diproyeksikan tumbuh 7,2 persen.
Dengan pertumbuhan sebesar 5,2 persen, Indonesia berada di bawah Vietnam yang diproyeksikan tumbuh 7,2 persen.

Prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 tetap menunjukkan kinerja yang solid. Di tengah perlambatan ekonomi yang melanda sejumlah negara Asia Tenggara, Asian Development Bank (ADB) mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2 persen, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di kawasan setelah Vietnam.

Berdasarkan laporan Asian Development Outlook (ADO) July 2026 yang dirilis ADB pada Jumat (10/7), proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak mengalami perubahan dibandingkan perkiraan pada April 2026.

Baca Juga: Hemat Devisa Rp177 Triliun, Indonesia Jadi Negara Pertama Terapkan Biodiesel B50

Dengan pertumbuhan sebesar 5,2 persen, Indonesia berada di bawah Vietnam yang diproyeksikan tumbuh 7,2 persen. Namun, capaian tersebut masih lebih tinggi dibandingkan Malaysia sebesar 4,6 persen, Filipina 3,8 persen, serta Thailand yang diperkirakan hanya tumbuh 1,8 persen.

Kinerja ekonomi Indonesia juga melampaui rata-rata pertumbuhan negara berkembang di Asia Tenggara yang direvisi turun menjadi 4,6 persen pada 2026 dari sebelumnya 4,7 persen.

Indonesia Ungguli Malaysia, Filipina, dan Thailand

Dalam laporannya, ADB mencatat hanya Filipina yang mengalami penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi di antara negara-negara utama ASEAN. Negara tersebut kini diperkirakan hanya tumbuh 3,8 persen pada 2026, turun dari proyeksi sebelumnya sebesar 4,4 persen.

Baca Juga: Ekonomi Tetap Solid, Menkeu Purbaya Tegaskan Indonesia Tidak Sedang Menuju Krisis

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi negara berkembang di kawasan Asia dan Pasifik juga direvisi turun menjadi 4,9 persen dari sebelumnya 5,1 persen.

Menurut ADB, perlambatan tersebut dipicu oleh gangguan berkepanjangan di pasar energi global akibat konflik di Timur Tengah. Kondisi ini mendorong kenaikan harga energi, pupuk, dan berbagai komoditas, sekaligus mengganggu rantai pasok internasional.

Kepala Ekonom ADB Albert Park mengatakan implementasi kesepakatan kerangka kerja yang sedang diupayakan diharapkan mampu membantu menstabilkan kembali pasar energi global. Namun, proses pemulihan masih dibayangi tingkat ketidakpastian yang tinggi.

"Jika berjalan baik, pelaksanaan kesepakatan kerangka kerja akan membantu normalisasi pasar energi global, tetapi seberapa cepat penyesuaian tersebut terjadi masih sangat tidak pasti dengan risiko pemburukan yang signifikan," ujar Albert.

Inflasi Indonesia Diperkirakan Naik Menjadi 3 Persen

Meski menghadapi berbagai tekanan eksternal, ADB menilai ekonomi negara-negara berkembang di Asia dan Pasifik masih tergolong tangguh. Namun, pemerintah di kawasan perlu menjaga keseimbangan antara mendorong pertumbuhan ekonomi dan mengendalikan inflasi.

Untuk Indonesia, ADB merevisi naik proyeksi inflasi 2026 menjadi 3 persen, lebih tinggi dibandingkan perkiraan pada April yang sebesar 2,5 persen. Meski demikian, tingkat inflasi Indonesia masih lebih rendah dibandingkan rata-rata inflasi Asia Tenggara yang diperkirakan mencapai 3,9 persen.

ADB juga mengingatkan bahwa prospek ekonomi kawasan masih dibayangi sejumlah risiko, mulai dari potensi eskalasi konflik geopolitik, ketidakpastian kebijakan perdagangan global, hingga kondisi keuangan dunia yang semakin ketat.

Selain itu, kenaikan harga pupuk diperkirakan dapat menekan produksi sektor pertanian dan memperburuk ketahanan pangan di sejumlah negara berkembang. Faktor-faktor tersebut dinilai menjadi tantangan yang perlu diantisipasi agar momentum pertumbuhan ekonomi tetap terjaga sepanjang 2026.

Editor : Hany Akasah
#ekonomi RI #adb #pertumbuhan ekonomi #asean