RADAR SURABAYA BISNIS - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali berada dalam tekanan besar hingga melampaui level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada pertengahan tahun ini.
Berdasarkan data real-time pada Kamis, 9 Juli 2026, pergerakan pasar spot bahkan sempat mencatat pelemahan yang cukup tajam hingga menyentuh angka Rp18.093,90 per dolar AS.
Fluktuasi ini bukanlah fenomena yang terjadi dalam semalam, melainkan akumulasi dari gelombang ketidakpastian ekonomi global dan domestik yang telah terlihat sejak awal bulan Juni lalu, di mana mata uang Garuda terus dipaksa bergerak dinamis dan responsif terhadap sentimen pasar finansial.
Melihat ke belakang, tren pelemahan ini sejatinya telah menunjukkan alarm serius sejak awal Juni 2026.
Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat bahwa pada 2 Juni 2026, rupiah sebenarnya masih mampu bertahan di level Rp17.863,00 per dolar AS.
Baca Juga: Dinamika Valas Domestik: Dibayangi Sentimen Global, Rupiah Menguji Level Psikologis Rp17.988
Namun, tekanan global langsung memicu lonjakan keesokan harinya pada 3 Juni ke level Rp17.931,00, hingga akhirnya resmi menjebol dinding pertahanan pada 4 dan 5 Juni 2026 di mana rupiah tertahan di angka Rp18.039,00 per dolar AS.
Puncak pelemahan pada gelombang pertama ini terjadi pada 8 Juni 2026 di level Rp18.171,00, disusul keesokan harinya pada 9 Juni di level Rp18.141,00 per dolar AS.
Setelah periode kritis tersebut, rupiah sempat mendapatkan ruang bernapas dan perlahan menguat kembali ke zona Rp17.971,00 pada 10 Juni, hingga berhasil menyentuh Rp17.719,00 pada pertengahan bulan, tepatnya 15 Juni 2026.
Sayangnya, pemulihan tersebut tidak bertahan lama seiring memasuki bulan Juli 2026, di mana tensi pasar kembali memanas.
Pada 1 Juli 2026, rupiah dibuka pada level Rp17.961,00 dan terus merayap tipis di angka Rp17.994,00 pada 2 Juli. Setelah sempat sedikit menguat ke Rp17.960,00 pada 3 Juli, rupiah kembali mendekati batas kritis di level Rp17.999,00 pada Senin, 6 Juli 2026.
Sempat mengalami penguatan minor ke Rp17.988,00 pada 7 Juli, benteng pertahanan rupiah akhirnya kembali runtuh pada Rabu, 8 Juli 2026, ketika data JISDOR resmi menetapkan nilai tukar rupiah menembus kembali angka Rp18.005,00 per dolar AS.
Rentetan perubahan berbasis tanggal ini mencerminkan betapa tingginya volatilitas yang dihadapi oleh perekonomian nasional saat ini.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.530 per Dolar AS, Akhirnya Bank Indonesia Intervensi
Para analis menilai bahwa selain faktor eksternal seperti kebijakan suku bunga ketat dari Bank Sentral AS (The Fed), sentimen domestik terkait rilis proyeksi ekonomi serta dinamika arus modal keluar turut menjadi pemicu utama fluktuasi ini.
Menghadapi situasi yang terus dinamis ini, langkah intervensi dari Bank Indonesia melalui triple intervention di pasar spot, DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward), maupun pasar obligasi menjadi sangat krusial guna meredam depresiasi lebih lanjut dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional agar tidak terganggu. (nov/han)