RADAR SURABAYA BISNIS – Pasar emas lokal menyaksikan koreksi harga yang cukup signifikan sepanjang bulan Juni 2026.
Berdasarkan data di Butik Emas Logam Mulia, harga jual emas Antam mencatatkan penurunan kumulatif sebesar 5,5% sejak pembukaan awal bulan.
Tren pasar yang cenderung menurun (bearish) ini mencerminkan dinamika pasar komoditas saat ini yang dipengaruhi oleh berbagai faktor makroekonomi, sekaligus mengubah landasan harga bagi investor ritel.
Memulai perdagangan pada 1 Juni 2026 dengan harga premium setinggi Rp2.799.000 per gram, komoditas berharga ini terus menerima tekanan jual yang berkesinambungan.
Pada minggu pertama, harga emas menyusut ke level Rp2.738.000 sebelum sempat membuat pantulan teknis (technical rebound) singkat pada pertengahan minggu kedua hingga mencapai Rp2.733.000 kembali.
Walau bagaimanapun, momentum peningkatan tersebut tidak bertahan lama karena harga emas terpantau terus membentuk pola grafik penurunan yang konsisten di sepanjang sisa minggu berikutnya.
Memasuki fase pertengahan hingga akhir bulan, penurunan nilai harian tercatat menjadi lebih agresif.
Penurunan harian terbesar secara mendadak terdeteksi terjadi pada tanggal 6, 18, dan 19 Juni, di mana harga merosot sebesar Rp30.000 hingga Rp32.000 hanya dalam hitungan 24 jam pada masing-masing tanggal tersebut.
Meskipun terdapat beberapa tanggal di mana harga bergerak mendatar (netral) tanpa adanya perubahan nilai seperti pada tanggal 24 hingga 26 Juni di level stabil Rp2.655.000, sentimen pasar secara keseluruhan tetap dikuasai oleh tren penurunan.
Tepat pada tanggal laporan ini diperbarui yaitu 29 Juni 2026, harga emas Antam secara resmi ditutup pada level terendah bulanan yaitu Rp2.645.000 per gram, setelah mengalami penurunan harian terakhir sebesar Rp15.000 (-0,56%).
Baca Juga: Genjot Program E20 di 2028, Pemerintah Siap Pangkas Impor 4 Juta KL Bensin dan Serap Etanol Petani
Seiring dengan jatuhnya harga jual, harga beli kembali (buyback) oleh pihak Antam turut disesuaikan ke level Rp2.360.000 per gram (menyusut Rp18.000 atau -0,76% pada hari yang sama). Hal ini membuat nilai selisih harga (spread) saat ini berada pada angka Rp285.000 per gram atau setara dengan 10,78%.
Bagi para investor bijak dan pengumpul logam mulia, koreksi harga senilai Rp154.000 sepanjang bulan Juni ini tidak seharusnya dilihat sebagai sinyal kepanikan.
Sebaliknya, momen ini merupakan sebuah peluang emas (buying opportunity). Mengingat sifat dasar emas sebagai aset lindung nilai (safe haven) utama terhadap inflasi jangka panjang, tingkat harga Rp2,6 juta ini menawarkan titik masuk (entry point) yang jauh lebih murah bagi mereka yang menerapkan strategi investasi berkala (Dollar-Cost Averaging) untuk mengoptimalkan imbal hasil di masa depan. (nov/han)
Editor : Hany Akasah