Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Jatim Butuh Investasi Rp220 Triliun untuk Kejar Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen pada 2029

Mus Purmadani • Jumat, 26 Juni 2026 | 18:35 WIB
Akses utama kawasan KEK Gresik, KEK jadi magnet investasi dan penciptaan lapangan kerja.
Akses utama kawasan KEK Gresik, KEK jadi magnet investasi dan penciptaan lapangan kerja.

radarsurabayabisnis.id - Pemerintah Provinsi Jawa Timur harus menggenjot investasi hingga mencapai Rp220 triliun pada 2029 apabila ingin mewujudkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen.

Proyeksi tersebut disampaikan Bank Indonesia (BI) Jawa Timur yang memperkirakan kebutuhan investasi di provinsi ini akan meningkat lebih dari 10 persen setiap tahun dalam empat tahun ke depan.

Kepala Perwakilan BI Jawa Timur, Ibrahim, menjelaskan bahwa kebutuhan investasi Jatim pada 2026 diperkirakan berada di level Rp162 triliun. Angka tersebut diproyeksikan terus meningkat hingga menyentuh Rp220 triliun pada 2029.

Baca Juga: Anggota DPD RI Lia Istifhama Optimisme Madura Bersiap Jadi Pusat Ekonomi Baru Jatim Pasca Peresmian Jalan 1.151 Km

"Berbagai skenario menunjukkan kebutuhan investasi tumbuh lebih dari 10 persen per tahun. Pada 2026 diperkirakan mencapai Rp162 triliun dan meningkat menjadi sekitar Rp220 triliun pada 2029," ujar Ibrahim dalam High Level Meeting Forum Investasi, Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah (TP2ED), dan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Jawa Timur di Gedung Grahadi, Surabaya, Kamis (25/6).

BI Nilai Target Pertumbuhan 8 Persen Masih Realistis

Menurut Ibrahim, target pertumbuhan ekonomi 8 persen masih sangat mungkin dicapai mengingat Jawa Timur memiliki sejumlah keunggulan kompetitif yang tidak dimiliki banyak daerah lain.

Mulai dari infrastruktur yang terus berkembang, konektivitas antarwilayah yang semakin baik, hingga ekspansi kawasan industri dinilai menjadi daya tarik utama bagi investor domestik maupun asing.

Baca Juga: Jumlah Penduduk Miskin Naik di Tengah Pertumbuhan Ekonomi, Ini Pemicu yang Dibeberkan Luhut

"Investor tidak selalu mencari daerah yang sempurna. Yang lebih dibutuhkan adalah kepastian, kemudahan berusaha, dan komitmen pemerintah daerah dalam menyelesaikan berbagai hambatan investasi," tegasnya.

Ia menambahkan, daerah yang responsif terhadap kebutuhan pelaku usaha dan mampu membangun kolaborasi akan lebih menarik dibandingkan daerah yang hanya mengandalkan potensi tanpa dukungan kebijakan yang jelas.

BI Dorong Lingkungan Investasi Bebas Premanisme

Untuk menjaga iklim investasi tetap kondusif, BI Jawa Timur mendorong penguatan implementasi deklarasi bebas premanisme yang sebelumnya telah dicanangkan pemerintah daerah.

Langkah tersebut dinilai penting untuk memberikan rasa aman dan kepastian hukum bagi investor yang ingin menanamkan modalnya di Jawa Timur.

Pemprov Siapkan 51 Proyek untuk Investor di EJIF 2026

Sebagai bagian dari strategi percepatan investasi, Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan kembali menggelar East Java Investment Forum (EJIF) 2026 pada Oktober mendatang.

Dalam forum investasi tahunan tersebut, Pemprov Jatim akan menawarkan 31 proyek investasi siap tawar (IPRO) serta 20 proyek potensial lainnya kepada calon investor.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Timur, Dyah Wahyu Ermawati, menyebut tren investasi di Jawa Timur terus menunjukkan pertumbuhan positif.

Pada 2024 terdapat 37 proyek IPRO dengan nilai investasi mencapai Rp54,5 triliun. Jumlah tersebut meningkat menjadi 44 proyek senilai Rp57,4 triliun pada 2025.

Sementara pada 2026, terdapat 38 proyek investasi dengan nilai mencapai Rp50,4 triliun.

Menurut Dyah, penurunan jumlah proyek yang ditawarkan pada tahun ini justru menunjukkan keberhasilan proyek-proyek sebelumnya dalam mendapatkan mitra investor.

Kawasan Industri Jatim Terus Bertambah

Selain proyek investasi, jumlah kawasan industri di Jawa Timur juga terus mengalami peningkatan.

Dari sebelumnya hanya delapan kawasan industri, jumlahnya bertambah menjadi 14 kawasan pada 2025 dan meningkat lagi menjadi 16 kawasan pada 2026.

Penambahan terbaru terjadi di Kota Pasuruan, Kabupaten Pasuruan, dan Kabupaten Banyuwangi. Sebelumnya, kawasan industri baru juga berkembang di Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Sampang.

Meski demikian, Pemprov Jatim masih menghadapi sejumlah tantangan untuk memperkuat daya saing investasi, mulai dari harmonisasi tata ruang dan lahan, percepatan pembangunan infrastruktur strategis, optimalisasi promosi investasi, hingga penguatan pemberantasan premanisme di kawasan industri dan proyek investasi.

Editor : Hany Akasah
#BI jawa timur #ekonomi 8 persen #investasi jatim #pertumbuhan ekonomi