RADAR SURABAYA BISNIS - Likuiditas perekonomian Indonesia mencatatkan tren positif. Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi uang beredar dalam arti luas (M2) pada Mei 2026 mencapai Rp10.415,9 triliun, tumbuh sebesar 10,8 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Angka ini menunjukkan akselerasi pertumbuhan dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 9,2 persen (yoy).
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa lonjakan ini tidak lepas dari laju intermediasi perbankan, khususnya di sektor kredit.
Baca Juga: Pertama dalam Sejarah, Presiden Prabowo Ajak Rakyat Pilih Sendiri Logo HUT Ke-81 RI
"Peningkatan M2 pada Mei 2026 terutama dipengaruhi oleh penyaluran kredit dan aktiva luar negeri bersih," ujarnya melalui keterangan resmi, Selasa (23/6/2026).
Secara rinci, pertumbuhan M2 ditopang oleh komponen uang beredar sempit (M1) yang melesat 15,3 persen (yoy), serta uang kuasi yang tumbuh 6 persen (yoy).
Dari sisi penyaluran kredit, industri perbankan mencatatkan pertumbuhan yang impresif sebesar 10,8 persen (yoy) pada Mei 2026, meningkat tajam dari 9,4 persen (yoy) pada bulan April 2026.
Baca Juga: Pertama dalam Sejarah, Presiden Prabowo Ajak Rakyat Pilih Sendiri Logo HUT Ke-81 RI
Selain didorong oleh sektor swasta, BI juga mencatat adanya kenaikan aktiva bersih atau tagihan bersih kepada pemerintah pusat sebesar 7,5 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 7 persen.
Sementara itu, uang primer (M0) adjusted—yang telah disesuaikan dengan mempertimbangkan dampak pemberian insentif likuiditas—tumbuh 14,2 persen (yoy) menjadi Rp2.214,6 triliun.
Perkembangan M0 ini didorong oleh pertumbuhan giro bank umum di BI sebesar 17,4 persen (yoy) dan uang kartal yang diedarkan sebesar 15,8 persen (yoy).
Data ini mengindikasikan perputaran ekonomi nasional terus berdenyut positif, didukung oleh fungsi intermediasi perbankan yang makin optimal dalam memenuhi kebutuhan pembiayaan.
Editor : Hany Akasah