Rupiah Tertahan di Posisi Rp17.925 per Dolar AS, Intip Tiga Parameter Penting Bagi Investor

Hany Akasah • Dipublikasikan Kamis, 25 Juni 2026 | 10:54 WIB
KEMBALI TERTEKAN : Nilai tukar rupiah terpantau melempem di posisi Rp17.925,75 per dolar AS pada perdagangan Kamis (25/06). (Foto : Istimewa)
KEMBALI TERTEKAN : Nilai tukar rupiah terpantau melempem di posisi Rp17.925,75 per dolar AS pada perdagangan Kamis (25/06). (Foto : Istimewa)

RADAR SURABAYA BISNIS  — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menunjukkan tren pelemahan yang cukup signifikan pada perdagangan bursa pertengahan pekan ini.

Berdasarkan data pasar spot pada hari Kamis (25/06) pukul 03.13 UTC, mata uang garuda terpantau melempem dan tertahan di posisi Rp17.925,75 per dolar AS.

Lonjakan keperkasaan greenback di panggung global ini nyatanya tidak hanya memukul pasar domestik, melainkan juga memicu efek domino yang melanda hampir seluruh koridor finansial di kawasan Asia.

Tekanan serupa secara simultan dialami oleh sederet mata uang utama regional lainnya, termasuk won Korea Selatan, yen Jepang, ringgit Malaysia, serta peso Filipina, yang semuanya terpaksa memerah menghadapi dominasi dolar.

Baca Juga: Tak Cuma Petani, BI Kini Incar Ratusan Barista Tembus Pasar Internasional

Hembusan sentimen eksternal yang agresif sejauh ini masih kokoh memegang peran sebagai faktor utama sekaligus motor penggerak ambruknya nilai tukar di pasar negara berkembang (emerging markets).

Saat ini, fokus perhatian para pelaku pasar global dan institusi keuangan sepenuhnya tertuju pada rilis indikator makro serta arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve.

Keengganan inflasi AS untuk turun ke target sasaran memicu kekhawatiran bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang jauh lebih lama (higher for longer).

Prospek imbal hasil yang tetap tinggi di AS inilah yang merangsang para investor global untuk segera melakukan realokasi aset secara masif, menarik modal mereka dari pasar berisiko, dan menempatkannya kembali pada instrumen berbasis dolar yang dinilai jauh lebih aman dan menjanjikan.

Kondisi pasar kian diperparah oleh eskalasi ketegangan geopolitik yang terus membara di beberapa kawasan strategis dunia, yang secara langsung mengganggu stabilitas rantai pasok global.

Baca Juga: IHSG Ditutup Anjlok 3,56 Persen, Berikut Deretan Saham yang Diam-diam Masih Diburu Asing

Gejolak politik internasional ini memicu fluktuasi tajam pada pergerakan harga minyak mentah dunia, yang bagi negara net-importir minyak seperti Indonesia, tentu menjadi beban ganda terhadap neraca perdagangan.

Kombinasi antara tingginya harga komoditas energi dan ketidakpastian pasar finansial global kian mempersempit ruang gerak rupiah, sekaligus memperlebar defisit transaksi berjalan yang pada akhirnya memaksa nilai tukar domestik terus merangkak turun mendekati batas pertahanan barunya.

Melihat laju koreksi yang terjadi, muncul pertanyaan krusial di tengah masyarakat maupun pelaku usaha: apakah pelemahan rupiah kali ini sudah berada dalam tahapan yang benar-benar mengkhawatirkan bagi fundamental ekonomi nasional?

Para pengamat dan ekonom senior menilai bahwa tingkat penurunan harian yang berada tipis di bawah 0,1% sebenarnya masih tergolong sangat wajar dan berada dalam batas volatilitas perdagangan harian yang normal.

Kendati demikian, otoritas moneter sama sekali tidak boleh lengah. Apabila sentimen negatif ini terus bergulir tanpa bendungan dan memaksa rupiah bergerak menembus level psikologis krusial di angka Rp18.000 per dolar AS, maka potensi pembengkakan biaya produksi akibat inflasi barang impor (imported inflation) dipastikan meningkat, yang lambat laun dapat mengancam laju pertumbuhan ekonomi domestik.

Bagi masyarakat secara luas, dampak nyata dari pelemahan nilai tukar ini biasanya akan langsung terasa dalam waktu singkat melalui jalur kenaikan harga barang-barang konsumsi impor (imported goods).

Baca Juga: Stok Beras Cetak Rekor 5,3 Juta Ton, Aman hingga Mei 2027 dan Siap Hadapi El Nino

Produk-produk teknologi tinggi seperti gawai pintar (smartphone), laptop, tablet, hingga berbagai komponen vital sektor otomotif dan elektronik diprediksi akan mengalami penyesuaian harga di tingkat retail guna menutupi membengkaknya biaya logistik dan pembelian bahan baku dalam dolar.

Selain sektor barang, masyarakat yang tengah merencanakan perjalanan dinas maupun wisata ke luar negeri, para orang tua yang membiayai pendidikan internasional putra-putrinya, hingga korporasi yang memiliki kewajiban pelunasan utang berbasis mata uang asing, juga dipaksa untuk merogoh kocek lebih dalam akibat konversi nilai mata uang yang kian memberatkan.

Menyikapi dinamika yang bergerak sangat dinamis ini, para investor retail disarankan untuk tidak panik dan tetap mencermati tiga parameter utama dalam beberapa hari ke depan sebagai kompas pengambilan keputusan investasi.

Parameter pertama adalah pergerakan indeks dolar AS (DXY) untuk mengukur sejauh mana kekuatan murni mata uang paman sam tersebut di tingkat global.

Kedua, pasar wajib menyaring setiap sinyal maupun pernyataan resmi dari para pejabat The Fed terkait pelonggaran atau pengetatan moneter lanjutan.

Terakhir dan yang paling krusial bagi pasar domestik adalah efektivitas langkah intervensi ganda (dual intervention) serta kebijakan stabilisasi yang ditempuh oleh Bank Indonesia melalui pasar spot maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

Jika ketiga faktor penentu ini menunjukkan tanda-tanda konsolidasi dan membaik, maka tekanan hebat terhadap rupiah diproyeksikan akan segera mereda dan berbalik arah menuju penguatan. (nov/han)

Editor : Hany Akasah
Sumber : radar surabaya bisnis
rupiah kurs dolar investor impor