Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Siap-Siap! Pemerintah Kucurkan Stimulus Rp26,34 Triliun di Semester II-2026, Ini Rinciannya

Hany Akasah • Rabu, 24 Juni 2026 | 14:12 WIB
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto jabarkan strategi jaga ketahanan ekonomi RI hadapi krisis.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto jabarkan strategi jaga ketahanan ekonomi RI hadapi krisis.

RADAR SURABAYA BISNIS – Dinamika geopolitik global, terutama eskalasi konflik di Timur Tengah, terus membayangi perekonomian dunia. Ancaman terhadap harga energi, rantai pasok, hingga arus investasi menjadi perhatian utama. 

Meski demikian, Pemerintah Indonesia memastikan ketahanan ekonomi nasional tetap solid dengan menyiapkan sejumlah langkah antisipasi strategis, termasuk suntikan stimulus jumbo di paruh kedua tahun 2026.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa perdamaian global adalah kunci utama perbaikan ekonomi dan rantai pasok dunia. Namun, di tengah ketidakpastian yang ada, Indonesia tetap menjadi daya tarik utama bagi para investor.

Baca Juga: Lindungi Industri Lokal, Kemenkeu Gagalkan Penyelundupan Ribuan Bal Pakaian Bekas Ilegal Rp41 Miliar

"Kawasan Indo-Pasifik tetap menjadi kawasan yang aman dan menarik bagi investasi global. Pertumbuhan ekonomi ASEAN yang masih berada di atas 4 persen menjadi modal penting dalam menjaga kepercayaan investor," ujar Menko Airlangga di Jakarta, Selasa (23/06).

Untuk meredam dampak eksternal, kolaborasi erat antara otoritas fiskal dan moneter terus diperkuat. Bank Indonesia (BI) secara aktif menjaga daya tarik instrumen Rupiah guna menekan risiko arus modal keluar. Likuiditas pasar dan penyaluran kredit perbankan juga terus dimonitor secara ketat.

Lebih dari sekadar bertahan, Pemerintah juga mengambil langkah agresif untuk memperluas pasar internasional. Proses aksesi Indonesia ke Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) sedang dikebut. Langkah ini strategis untuk menembus pasar 38 negara dengan nilai mencapai USD64 triliun.

Baca Juga: Trenggalek Dapat Dana Rp19 Miliar untuk Proyek JLS, Pemprov Jatim Siap Bantu Daerah Lain

Selain itu, penyelesaian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) diyakini akan menjadi angin segar bagi sektor manufaktur. 

"Implementasi penuh IEU-CEPA nantinya akan menghapus tarif masuk berbagai produk Indonesia ke pasar Eropa yang saat ini masih berada pada kisaran 10 hingga 20 persen," tambah Airlangga.

Kabar baik lainnya bagi iklim usaha domestik adalah penyiapan paket stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun untuk Semester II-2026. Paket ini diarahkan untuk menjaga momentum pertumbuhan dan daya beli masyarakat. 

Baca Juga: Nilai Tukar USD Tembus Rp17.951, Rupiah Melemah 22 Persen dalam Setahun

Rinciannya mencakup stimulus transportasi dan pariwisata (Rp2,04 triliun), program magang dan vokasi (Rp6,26 triliun), serta bantuan pangan (Rp18,04 triliun).

Sebagai langkah mitigasi jangka panjang, Pemerintah juga telah mendiversifikasi sumber pasokan energi, sehingga ketergantungan impor minyak dari Timur Tengah kini hanya sekitar 20 persen. 

Di sektor pertanian, ancaman fenomena *El Nino* diantisipasi melalui program pompanisasi untuk mengamankan ketahanan pangan nasional.

Baca Juga: Terancam Degradasi ke Pasar Perintis, Indonesia Dapat Kartu Kuning MSCI dan Ditenggat hingga November 2026

"Ekonomi Indonesia dasarnya solid. Dan usahanya kuat. Jadi resilient. Makanya kita akan terus dorong agar selain resilience, nanti bisa memakmurkan masyarakatnya," pungkas Menko Airlangga.

Editor : Hany Akasah
#ekonomi #pangan #menko airlangga #magang #stimulus