Nilai Tukar USD Tembus Rp17.951, Rupiah Melemah 22 Persen dalam Setahun

Hany Akasah • Dipublikasikan Rabu, 24 Juni 2026 | 09:30 WIB
KIAN TERTEKAN : Performa Dolar AS makin tak terbendung. Per hari ini, Rabu (24/6/2026), nilai tukar USD terhadap Rupiah melesat ke angka Rp17.951,75. (Foto : Istimewa)
KIAN TERTEKAN : Performa Dolar AS makin tak terbendung. Per hari ini, Rabu (24/6/2026), nilai tukar USD terhadap Rupiah melesat ke angka Rp17.951,75. (Foto : Istimewa)

RADAR SURABAYA BISNIS - Berdasarkan data real-time yang dihimpun melalui platform Google Finance pada tanggal hari Rabu (24/06/26) pukul 02.10 UTC, nilai tukar Dolar Amerika Serikat (USD) terhadap Rupiah Indonesia (IDR) menunjukkan pergerakan yang sangat agresif dan berada pada tren penguatan yang masif.

Mata uang Paman Sam tersebut kini telah bertengger di level Rp17.951,75 per satu Dolar AS.

Angka ini tidak hanya mencerminkan dominasi dolar di pasar valuta asing global, tetapi juga menjadi sinyal peringatan dini bagi perekonomian domestik, mengingat posisi ini kian mendekati level psikologis baru sebesar Rp18.000.

Tekanan yang dialami Rupiah saat ini mengindikasikan adanya pergeseran peta kekuatan ekonomi makro yang cukup dinamis sepanjang tahun berjalan.

Baca Juga: Terancam Degradasi ke Pasar Perintis, Indonesia Dapat Kartu Kuning MSCI dan Ditenggat hingga November 2026

Apabila dilakukan kilas balik terhadap performa mata uang garuda dalam kurun waktu satu tahun ke belakang (periode 1THN), grafik pergerakan menunjukkan akumulasi kenaikan nilai dolar yang sangat fantastis, yakni sebesar 22,11% atau setara dengan lonjakan absolut sebesar Rp3.250,75.

Membaca historis pergerakan sejak  Juli 2025, pergerakan grafik sejatinya sempat diwarnai oleh volatilitas yang cukup tajam, termasuk adanya koreksi atau penurunan sesaat yang cukup signifikan pada bulan November 2025.

Kendati demikian, setelah memasuki awal Januari 2026, Dolar AS seolah menemukan momentum reli baru dan terus merangkak naik secara konsisten tanpa perlawanan berarti dari Rupiah, melewati bulan Maret dan Mei, hingga akhirnya mencapai puncak tertingginya pada akhir Juni 2026 ini.

Fenomena lonjakan nilai tukar yang sangat eskalatif ini tentu tidak terjadi di dalam ruang hampa, melainkan dipicu oleh kombinasi sentimen ekonomi global yang kompleks dan kondisi internal pasar domestik.

Baca Juga: Dapur MBG Tutup, Ribuan Relawan Terancam Menganggur, Petani, Peternak dan UMKM Kehilangan Pasar

Penguatan Dolar AS yang konsisten sejak awal tahun 2026 mengindikasikan adanya arus modal keluar (capital outflow) secara besar-besaran dari pasar negara berkembang (emerging markets), di mana para investor global cenderung mengamankan aset mereka ke dalam bentuk instrumen investasi yang dinilai lebih aman (safe-haven assets) berbasis dolar.

Tingginya ketidakpastian geopolitik global, penyesuaian suku bunga bank sentral global, serta meningkatnya permintaan korporasi domestik untuk pembayaran utang luar negeri dan kebutuhan impor, ditengarai menjadi motor utama di balik terus terkoreksinya nilai tukar Rupiah.

Dampak dari pelemahan Rupiah yang cukup dalam ini dipastikan akan membawa efek domino yang luas terhadap berbagai sektor riil di Indonesia.

Salah satu risiko paling nyata yang berada di depan mata adalah ancaman lonjakan inflasi barang impor (imported inflation), yang mana biaya bahan baku industri manufaktur, komponen elektronik, hingga komoditas pangan yang masih bergantung pada impor akan melambung tinggi.

Situasi ini menuntut adanya bauran kebijakan moneter yang ekstra taktis, responsif, dan terukur dari Bank Indonesia, baik melalui intervensi langsung di pasar valas maupun optimalisasi instrumen moneter lainnya guna menahan depresiasi lebih lanjut demi menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen serta mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi nasional. (nov/han)

 

Editor : Hany Akasah
Sumber : radar surabaya bisnis
rupiah valuta asing usd dolar nilai tukar