radarsurabayabisnis.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Timur mencatat tingginya antusiasme masyarakat dalam memanfaatkan layanan perlindungan konsumen sepanjang triwulan pertama 2026. Lebih dari 3.600 warga mendatangi kantor OJK di Surabaya untuk berkonsultasi, menyampaikan pengaduan, hingga meminta informasi terkait sektor jasa keuangan.
Pelaksana Harian Kepala OJK Jawa Timur, Horas VM Tarihoran, mengatakan tingginya jumlah masyarakat yang datang langsung ke kantor OJK menunjukkan kesadaran konsumen terhadap hak-haknya di sektor keuangan semakin meningkat.
Baca Juga: Bidik Investasi Rp557 Triliun, Investor Berebut Masuk, Tiga KEK Ini Ajukan Perluasan Lahan
"Masih ada lebih dari 3.600 masyarakat yang datang langsung ke kantor OJK untuk mengadu, melapor, atau sekadar meminta informasi. Sementara permintaan layanan SLIK mencapai lebih dari 15.000 selama tiga bulan," ujarnya, Senin (22/6).
Permintaan SLIK Tembus 15 Ribu dalam Tiga Bulan
Selain layanan tatap muka, OJK Jawa Timur juga menerima lebih dari 15.000 permintaan layanan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) selama periode Januari hingga Maret 2026.
Menurut Horas, masyarakat yang menjadi korban penipuan digital atau scam online sebaiknya segera melaporkan kejadian tersebut agar peluang penyelamatan dana dapat lebih besar.
"Kalau ada yang tertipu secara online, harap segera melapor ke Indonesia Anti Scam Center. Semakin cepat dilaporkan, semakin besar kemungkinan dana bisa diselamatkan," tegasnya.
Kredit Perbankan dan Dana Masyarakat Masih Tumbuh
Di tengah tantangan ekonomi, kinerja sektor perbankan Jawa Timur hingga April 2026 masih menunjukkan tren positif. Penyaluran kredit tumbuh 2,87 persen secara tahunan (year on year), sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 5,78 persen.
"Untuk intermediasi perbankan di Jawa Timur per April 2026 masih menunjukkan pertumbuhan yang positif. Kredit masih tumbuh sebesar 2,87 persen dan dana pihak ketiga juga masih tumbuh 5,78 persen," kata Horas.
Dari sisi ketahanan industri, kondisi perbankan Jawa Timur dinilai tetap kuat. Rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 32,9 persen, jauh di atas batas minimum regulator. Sementara rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) gross berada di level 3,72 persen.
"Permodalan perbankan di Jawa Timur masih kuat dengan rasio kecukupan modal mencapai 32,9 persen dan risiko kredit masih terkendali dengan NPL gross sebesar 3,72 persen," jelasnya.
Rumah Tangga dan Perdagangan Dominasi Penyaluran Kredit
Berdasarkan sektor ekonomi, kredit perbankan di Jawa Timur masih didominasi rumah tangga dengan porsi 30,54 persen. Posisi berikutnya ditempati sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 24,9 persen serta industri pengolahan sebesar 19,30 persen.
Dari sisi penggunaan, kredit produktif mendominasi sebesar 68,3 persen yang terdiri atas kredit modal kerja sebesar 50,11 persen dan kredit investasi 18,22 persen. Adapun kredit konsumsi tercatat sebesar 31,67 persen.
Kredit UMKM Masih Besar, Namun NPL Jadi Tantangan
OJK mencatat pangsa kredit UMKM di Jawa Timur mencapai 36,77 persen dari total kredit perbankan. Namun tingginya rasio kredit bermasalah masih menjadi pekerjaan rumah bagi seluruh pemangku kepentingan.
"Masih banyak ruang bagi kita untuk meningkatkan penyaluran kredit kepada UMKM. Namun, memang kita harus akui bahwa NPL UMKM sudah berada di atas threshold, yaitu 5,45 persen. Ini menjadi tantangan bagaimana membangun UMKM yang sehat dan bankable," ujar Horas.
Meski demikian, realisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Jawa Timur telah mencapai Rp67,76 triliun dengan kualitas kredit yang dinilai lebih baik dibandingkan rata-rata nasional maupun Pulau Jawa.
"Kalau mengembangkan UMKM, Jawa Timur tepat untuk itu. KUR kita tumbuh baik dan kualitas kreditnya juga lebih baik dibanding rata-rata nasional," katanya.
Investor Pasar Modal Jatim Tembus 2,9 Juta
Sementara itu, sektor pasar modal mencatat pertumbuhan yang menggembirakan. Jumlah investor pasar modal di Jawa Timur yang tercatat melalui Single Investor Identification (SID) mencapai 2,9 juta investor.
Jumlah tersebut menempatkan Jawa Timur sebagai provinsi dengan jumlah investor terbesar ketiga di Indonesia setelah DKI Jakarta dan Jawa Barat.
"Pertumbuhan SID di Jawa Timur mencapai 60,47 persen. Ini menunjukkan minat masyarakat terhadap investasi pasar modal masih sangat tinggi," ungkap Horas.
Meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terkoreksi hingga 31,41 persen pada April 2026, kondisi pasar kini mulai menunjukkan pemulihan dan bergerak di kisaran level 6.000.
Securities Crowdfunding Jadi Alternatif Pembiayaan UMKM
Selain pasar modal konvensional, OJK juga mencatat peningkatan penghimpunan dana melalui Securities Crowdfunding (SCF). Instrumen ini dinilai memiliki potensi besar sebagai sumber pembiayaan alternatif bagi pelaku usaha, terutama UMKM yang membutuhkan akses modal selain kredit perbankan.
"Ke depan, Securities Crowdfunding akan menjadi salah satu fokus pendalaman pasar keuangan di Jawa Timur karena dapat menjadi alternatif pembiayaan selain kredit perbankan," pungkas Horas.
Editor : Hany Akasah