RADAR SURABAYA BISNIS - Tekanan terhadap nilai tukar mata uang garuda di pasar valuta asing masih terus berlanjut.
Berdasarkan data referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah ditutup melemah di posisi Rp17.826 pada akhir perdagangan Kamis (18/6/2026).
Nilai tersebut mencerminkan pelemahan sebesar 0,41% jika dibandingkan dengan penutupan hari Rabu (17/6/2026) yang berada di level Rp17.753.
Pelemahan rupiah terpantau masih bergulir hingga hari berikutnya. Merujuk pada data terbaru dari platform Google Finance pada Jumat (19/6/2026), pergerakan nilai tukar menunjukkan pelemahan yang sedikit lebih dalam, di mana 1 Dolar Amerika Serikat setara dengan Rp17.828,00 Rupiah Indonesia.
Menariknya, depresiasi rupiah ini justru terjadi setelah Bank Indonesia mengambil langkah pengetatan moneter dengan kembali menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75% pada hari Kamis tersebut.
Baca Juga: 185 Ribu Peserta PBI JKN Dicoret, Korban PHK Bisa Kehilangan BPJS Gratis, Ini Penjelasan Dinsos
Tidak hanya suku bunga acuan, BI juga mengerek suku bunga deposit facility sebesar 25 bps menjadi 4,75% dan suku bunga lending facility sebesar 25 bps menjadi 6,50%. Langkah ini sejatinya diambil bank sentral sebagai upaya intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar, namun pasar merespons dengan dinamika lain.
Ibrahim Assuaibi, pengamat pasar keuangan, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah ini utamanya terjadi di tengah tingginya tekanan dan volatilitas di pasar keuangan domestik. Hal ini dipicu oleh sikap wait and see atau cenderung menahan diri yang diperlihatkan oleh para pelaku pasar global maupun institusi.
Saat ini, fokus utama para investor adalah menanti pengumuman dan keputusan krusial dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait status Indonesia di dalam indeks emerging market (pasar negara berkembang).
Baca Juga: Redam Inflasi, Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Jadi 5,75% demi Bentengi Rupiah
Selain kejelasan status tersebut, pelaku pasar juga mencermati potensi apakah pembekuan (freeze) terhadap penambahan konstituen saham baru asal Indonesia di indeks global tersebut akan dicabut atau dipertahankan. Ketidakpastian sentimen inilah yang dinilai menahan laju pemulihan rupiah terhadap dolar AS dalam jangka pendek. (nov/han)
Editor : Hany Akasah