RADAR SURABAYA BISNIS - Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya atau Federal Funds Rate pada kisaran 3,5–3,75 persen. Keputusan strategis tersebut diambil dalam rapat perdana yang dipimpin oleh Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, setelah menggelar pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) selama dua hari yang berakhir pada Rabu (17/6/2026) waktu setempat.
Suku bunga acuan tersebut tercatat telah bertahan pada level yang sama sejak The Fed melakukan pemangkasan sebesar 75 basis poin (bps) pada paruh kedua tahun 2025 lalu.
Meski keputusan ini sesuai dengan ekspektasi pasar, bank sentral AS justru mengirimkan sinyal kuat bahwa kenaikan suku bunga masih menjadi opsi kebijakan ke depan guna meredam inflasi yang masih bertahan di atas target 2 persen.
Langkah ini menjadi bukti awal terjadinya perubahan struktural di dalam tubuh The Fed di bawah kepemimpinan Kevin Warsh, salah satunya ditandai dengan perubahan mencolok pada dokumen pernyataan resmi yang kini dibuat jauh lebih singkat serta menghapus seluruh panduan kebijakan masa depan (forward guidance).
Di dalam pernyataan resminya, komite menjelaskan situasi ekonomi domestik saat ini yang dipenuhi ketidakpastian namun tetap solid.
Baca Juga: Harga Bahan Pokok di Jawa Timur Merangkak Naik, Beras hingga Minyak Goreng Alami Lonjakan
"Aktivitas ekonomi terus tumbuh dengan laju yang solid meskipun ketidakpastian masih tinggi, yang sebagian disebabkan oleh konflik di Timur Tengah. Pertumbuhan produktivitas dan investasi modal tetap kuat. Pertambahan lapangan kerja berjalan seiring dengan pertumbuhan angkatan kerja, sementara tingkat pengangguran relatif tidak banyak berubah. Inflasi masih berada di atas target 2% yang ditetapkan Komite, sebagian akibat gangguan pasokan yang mendorong kenaikan harga di sejumlah sektor, termasuk energi," tulis The Fed dalam rilis resminya.
Dalam konferensi pers setelah rapat, Kevin Warsh juga menegaskan bahwa target inflasi 2 persen bersifat mutlak dan tidak akan diubah. Menurutnya, pembahasan mengenai perubahan target baru hanya akan relevan jika The Fed telah berhasil membawa inflasi kembali ke sasaran awal tersebut.
"Komitmen untuk mencapai target itu kuat, bulat, dan tidak ambigu," ujar Warsh tegas. Ia juga mengakui bahwa The Fed sempat gagal menyampaikan komitmennya dalam memerangi inflasi secara efektif selama beberapa tahun terakhir, sehingga kini dibentuk sebuah gugus tugas (task force) khusus untuk mengevaluasi strategi komunikasi bank sentral serta operasional lainnya.
Terkait arah kebijakan moneter ke depan, Warsh memilih untuk tidak memberikan forward guidance karena dinilai kurang cocok dengan volatilitas kondisi ekonomi saat ini. "Mengenai prospek kebijakan moneter, saya tidak bisa memberikan panduan tentang apa yang akan kami lakukan selanjutnya. Kabar baiknya, kami akan kembali bertemu dalam enam minggu," ungkap Warsh.
Baca Juga: Beli Nomor HP Baru Wajib Scan Wajah per Juli 2026, Ini Aturan Lengkapnya
Sinyal kenaikan suku bunga ini dipertegas oleh dokumen proyeksi Dot Plot terbaru. Berdasarkan 18 dari total 19 proyeksi pejabat yang masuk, di mana Warsh sendiri mengonfirmasi sengaja tidak menyerahkan proyeksi pribadinya, median perkiraan suku bunga federal funds pada akhir tahun 2026 kini naik menjadi 3,8 persen dari yang sebelumnya sebesar 3,4 persen pada proyeksi Maret.
Proyeksi ini mengindikasikan bahwa mayoritas pejabat The Fed mulai melihat urgensi kenaikan suku bunga setidaknya satu kali lagi pada tahun ini. Walau demikian, internal pejabat Fed masih terbelah, sebanyak sembilan pejabat memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan, delapan pejabat memproyeksikan suku bunga tetap, dan satu pejabat masih melihat peluang pemangkasan.
Sikap hawkish dari bank sentral ini langsung memicu respons negatif di pasar keuangan global. Indeks saham utama di Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Rabu karena imbal hasil (yield) obligasi jangka pendek melonjak naik. Indeks S&P 500 tercatat turun 1,2 persen, diikuti oleh Nasdaq 100 dan Dow Jones Industrial Average yang masing-masing kompak jatuh sebesar 1 persen.
Menanggapi fenomena global ini, Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai langkah dan sinyal dari The Fed tersebut berpotensi menekan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pada perdagangan Rabu sore (17/06), kurs rupiah di pasar spot sendiri sudah ditutup melemah 37 poin atau 0,21 persen ke level Rp 17.762 per dolar AS.
Tekanan terhadap mata uang domestik terpantau terus berlanjut hingga keesokan harinya. Berdasarkan data terbaru Google Finance per tanggal 18 Juni pukul 00.54 UTC, nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap Rupiah Indonesia (USD/IDR) kini bergerak di level Rp 17.837,0000.
Baca Juga: Menkes Jamin Harga Obat BPJS Tak Naik di Tengah Fluktuasi Rupiah, Non BPJS Maksimal Naik 20 Persen
Angka ini merefleksikan adanya penurunan atau penguatan rupiah secara harian sebesar -0,34% (-61,0000 poin) jika dibandingkan dengan posisi penutupan sebelumnya yang bertengger di level Rp 17.898,0000. Meskipun pada awal hari (pukul 00.01 UTC) grafik sempat menyentuh titik harga Rp 17.908,0000 (+0,0559%), fluktuasi pasca-pengumuman FOMC tetap memosisikan rupiah pada tren pelemahan yang cukup dalam secara makro.
Ibrahim memproyeksikan bahwa mata uang Garuda memiliki potensi melemah lebih jauh hingga menyentuh level Rp 18.500 per dolar AS. Kendati angka ini mengkhawatirkan, proyeksi tersebut sebenarnya masih lebih baik dari perkiraan kasarnya terdahulu yang sempat menyentuh angka psikologis Rp 19.000.
“Kemarin saya pernah bilang rupiah bisa ke Rp 19.000 per dolar AS apabila Selat Hormuz tetap ditutup, kemudian dolar masih akan terus menguat, perang masih berjalan, tapi ini tidak lagi, kemungkinan besar hanya di Rp 18.500-an, itu level tertinggi [pelemahan],” pungkas Ibrahim saat dihubungi.
Ia menambahkan bahwa meredanya konflik di Timur Tengah serta dibukanya kembali Selat Hormuz menjadi faktor positif yang sedikit mengurangi tekanan inflasi global, terutama dari sektor penurunan harga energi.
Meskipun demikian, para pelaku pasar domestik tetap diimbau untuk waspada. Jika inflasi AS tidak kunjung melandai dan memaksa Kevin Warsh secara mengejutkan menaikkan suku bunga di akhir tahun, dampak negatif yang signifikan dipastikan akan langsung memukul pasar keuangan Indonesia, baik dari sisi depresiasi nilai tukar rupiah maupun kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (nov/han)
Editor : Hany Akasah