RADAR SURABAYA BISNIS - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menguat pada perdagangan Rabu (17/06).
Meskipun sempat ditutup melemah pada perdagangan hari Selasa (16/06) ke level Rp17.725 per dolar AS atau terdepresiasi sekitar 0,09% (16-19 poin), mata uang Garuda diproyeksikan akan bergerak di rentang Rp17.690 hingga Rp17.728 per dolar AS.
Berdasarkan pergerakan data terbaru di pasar spot pada 17 Juni pukul 02.42 UTC, nilai tukar sempat menyentuh Rp17.724,80 per dolar AS sebelum kembali mengalami dinamika pergerakan pasar.
Bahkan, jika merujuk pada visualisasi data Google Finance yang diambil pada tanggal 17 Juni 2026 pukul 02.25 UTC, pergerakan grafik sempat mencatat angka Rp17.750,00 per dolar AS atau naik tipis 0,07%.
Baca Juga: Harga Emas Antam Mulai Merangkak Naik, Sentuh 2,7 Juta Rupiah per Gram setelah Fluktuasi Tajam
Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa tekanan domestik terhadap rupiah pada awal pekan dipicu oleh kembali bergemuruhnya isu perang dagang.
Kekhawatiran pasar mencuat setelah Amerika Serikat berencana mengenakan tarif impor baru secara bertahap mulai 24 Juli 2026 berdasarkan Pasal 301 Trade Act 1974.
Kebijakan ini berpotensi menaikkan tarif produk ekspor Indonesia hingga 18% setelah investigasi kapasitas berlebih (excess capacity) rampung.
Saat ini sendiri, ekspor Indonesia ke AS masih dikenakan tarif global sebesar 10% berbasis Pasal 122 Trade Act AS sejak Februari 2026.
Pembatasan ini dinilai mengancam daya saing industri manufaktur nasional, mengurangi tingkat utilisasi pabrik, mengganggu iklim investasi, hingga berisiko menekan penyerapan tenaga kerja. Padahal, AS merupakan pasar nonmigas terbesar kedua bagi Indonesia dengan nilai ekspor mencapai 14,79 miliar dollar AS periode Januari-Juni 2025.
Kendati dibayangi sentimen negatif perang dagang, rupiah mendapatkan angin segar dari meredanya tensi geopolitik global.
Baca Juga: Membaca Potensi Ekonomi Kreatif dari 5 Daerah Penghasil Batik di Jatim
Pengumuman kesepakatan awal damai antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri konflik serta membuka kembali Selat Hormuz sukses menekan indeks dolar AS.
Langkah perdamaian yang rencananya ditandatangani akhir pekan ini memicu penurunan tajam harga minyak mentah dunia, termasuk minyak Brent yang jatuh ke level terendah dalam tiga bulan.
Penurunan biaya energi ini secara langsung mengurangi kekhawatiran inflasi global dan mendorong para pelaku pasar kembali berani masuk ke aset-aset berisiko, termasuk pasar ekuitas global.
Di tengah kondisi tersebut, perhatian pasar kini bergeser penuh pada kebijakan moneter sejumlah bank sentral utama. Bank Sentral Jepang (BOJ) telah mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga jangka pendek sebesar 25 basis poin menjadi 1,0%, yang merupakan level tertinggi dalam 31 tahun terakhir demi menekan inflasi.
Sebaliknya, Bank Cadangan Australia memilih menahan suku bunga acuannya di level 4,35%. Investor kini menanti dengan cermat pengumuman kebijakan dari Bank of England dan Federal Reserve (The Fed) AS pada akhir pekan, serta pidato dari Ketua The Fed Kevin Warsh.
Meski indeks dolar melemah berkat kesepakatan damai Timur Tengah, investor tetap berhati-hati karena data inflasi yang masih persisten membuat ekspektasi pemotongan suku bunga AS pada tahun ini kian berkurang. (nov/han)
Editor : Hany Akasah