RADAR SURABAYA BISNIS - Di tengah lonjakan biaya hidup dan bayang-bayang ketidakpastian ekonomi global, media sosial kembali diramaikan dengan tren ungkapan "In This Economy?".
Frasa yang awalnya berupa candaan sarkastis ini kini bertransformasi menjadi gaya hidup dan pengingat finansial bagi generasi muda dalam mengelola arus kas pribadi mereka.
Ungkapan "In This Economy?" umumnya dilontarkan ketika seseorang melihat atau merencanakan pengeluaran yang dianggap tidak mendesak di situasi sulit, seperti membeli kopi racikan setiap hari atau berlangganan layanan tersier.
Baca Juga: Lirik Pasar Global, RI Jajaki Kerja Sama Benih Gandum dan Hilirisasi Gambir di Forum BRICS
Tren ini secara langsung merefleksikan perubahan perilaku konsumen di kalangan Gen Z dan Milenial yang semakin selektif akibat naiknya harga kebutuhan pokok, transportasi, hingga hunian.
Melansir dari berbagai catatan sejarah ekonomi, istilah ini mulai banyak digunakan pada masa krisis finansial global tahun 2008 di Amerika Serikat, di mana masyarakat menghadapi tingginya angka pengangguran.
Seiring berkembangnya budaya internet, frasa ini kembali relevan saat ini. Lonjakan inflasi yang membuat daya beli masyarakat tertekan menjadikan "In This Economy" sebagai tameng pertahanan finansial.
Baca Juga: Menkes Jamin Harga Obat BPJS Tak Naik di Tengah Fluktuasi Rupiah, Non BPJS Maksimal Naik 20 Persen
Bagi banyak anak muda, tren ini bukan sekadar keluhan, melainkan strategi adaptasi ekonomi yang memengaruhi sektor bisnis secara nyata.
Terdapat pergeseran tren konsumsi; masyarakat kini lebih memilih membuat kopi sendiri di rumah, proaktif memanfaatkan promo diskon, beralih ke produk fesyen bekas (thrifting), hingga mencari sumber pendapatan tambahan (side hustle).
Fenomena ini menegaskan bahwa generasi muda berusaha beradaptasi secara logis. Menekan pengeluaran bukan berarti menurunkan kualitas hidup secara drastis, melainkan melakukan penyesuaian prioritas yang lebih tajam.
Pada akhirnya, "In This Economy" membawa pesan penting dalam literasi keuangan: keberhasilan bertahan di era penuh tantangan tidak hanya ditentukan oleh besaran pendapatan, tetapi oleh seberapa bijak seseorang beradaptasi dan mengelola pengeluarannya. Dompet mungkin menipis, namun hidup tetap bisa dinikmati jika dikelola dengan strategi yang cerdas.
Editor : Hany Akasah