Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

BI Kerahkan Semua Senjata untuk Selamatkan Rupiah, Suku Bunga Naik Lagi dan Investor Asing Diberi Insentif

Hany Akasah • Rabu, 10 Juni 2026 | 12:35 WIB
BI memutuskan menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan yang digelar pada Senin (9/6/2026).
BI memutuskan menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan.

radarsurabayabisnis.id - Bank Indonesia (BI) kembali mengambil langkah agresif untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya tekanan global. Setelah menaikkan suku bunga acuan, bank sentral kini mengerahkan berbagai instrumen moneter sekaligus, mulai dari kenaikan imbal hasil instrumen investasi, pemberian insentif bagi investor asing, hingga memperkuat intervensi di pasar valuta asing.

Langkah tersebut diumumkan setelah BI memutuskan menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan yang digelar pada Senin (9/6/2026). Keputusan ini menjadi kenaikan kedua secara beruntun setelah sebelumnya BI menaikkan suku bunga sebesar 50 bps pada Mei 2026.

Baca Juga: Penuh Kejutan, Sempat Terbakar di Zona Merah, Sinergi Pemerintah dan BI Bawa Rupiah Menguat Rp 17.914 Sore Ini

BI Naikkan BI-Rate Jadi 5,50 Persen untuk Jaga Rupiah

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan bahwa kebijakan tersebut merupakan bagian dari strategi menjaga stabilitas rupiah sekaligus mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik di tengah ketidakpastian pasar global.

 

Tidak hanya menaikkan BI-Rate, BI juga meningkatkan suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada seluruh tenor, yakni 6 bulan, 9 bulan, dan 12 bulan.

Menurut Perry, penguatan struktur suku bunga SRBI dilakukan sesuai mekanisme pasar agar instrumen investasi Indonesia tetap kompetitif dibandingkan negara-negara lain yang juga tengah menawarkan imbal hasil tinggi untuk menarik modal asing.

"Langkah ini untuk menjadikan investasi portofolio di Indonesia tetap kompetitif dengan negara lain," ujar Perry dalam keterangan resmi di Jakarta.

Investor Asing Dapat Insentif Khusus dari Bank Indonesia

Selain menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi, BI juga memberikan insentif tambahan berupa penurunan biaya swap lindung nilai (hedging swap) sebesar 10 persen bagi investor asing.

Baca Juga: Gubernur BI Pastikan Pelemahan Rupiah Bersifat Sementara, 5 Faktor Ini Jadi Penyelamat

Kebijakan ini bertujuan meningkatkan daya tarik investasi portofolio ke Indonesia sekaligus mengurangi beban biaya yang selama ini harus ditanggung investor dalam melakukan lindung nilai terhadap risiko nilai tukar.

Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga arus modal asing tetap masuk ke pasar keuangan domestik di tengah meningkatnya volatilitas global dan penguatan dolar Amerika Serikat.

BI Buka Kembali Repo hingga 12 Bulan

Dalam upaya menjaga kecukupan likuiditas perbankan, Bank Indonesia juga membuka kembali fasilitas lelang repurchase agreement (repo) dengan tenor 3 bulan, 6 bulan, 9 bulan, dan 12 bulan.

Kebijakan ini diharapkan mampu menjaga pertumbuhan likuiditas sehingga Uang Primer (M0) tetap tumbuh di atas 10 persen atau berada pada level double digit.

Perry menjelaskan bahwa repo akan menjadi instrumen utama dalam pengelolaan likuiditas moneter ke depan dan secara bertahap menggantikan sejumlah mekanisme lain yang selama ini digunakan BI.

"Instrumen ini akan menggantikan mekanisme lain, termasuk pembelian SBN dari pasar sekunder yang selama ini ditempuh BI," katanya.

Operasi Moneter dan Intervensi Rupiah Diperkuat

Selain kebijakan suku bunga dan likuiditas, BI juga meningkatkan intensitas operasi moneter untuk menjaga kestabilan rupiah.

Di pasar rupiah, BI akan menggelar lelang SRBI sebanyak dua kali dalam sepekan guna meningkatkan efektivitas pengelolaan likuiditas.

Sementara di pasar valuta asing, intervensi dilakukan melalui transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri.

Baca Juga: BI Naikkan Suku Bunga Jadi 5,5 Persen demi Rupiah, DPR Beri Lampu Hijau Himbara Buyback Saham

Strategi ini menjadi bagian dari upaya bank sentral menahan tekanan terhadap rupiah yang muncul akibat gejolak pasar keuangan global.

BI dan Pemerintah Kompak Jaga Stabilitas Ekonomi

Bank Indonesia juga memastikan koordinasi dengan pemerintah terus diperkuat agar kebijakan moneter dan fiskal berjalan searah.

Fokus utama koordinasi tersebut adalah meningkatkan daya tarik investasi portofolio asing melalui instrumen SRBI dan Surat Berharga Negara (SBN), sekaligus menjaga kecukupan likuiditas pasar uang melalui pengelolaan kas pemerintah yang tetap ditempatkan di Bank Indonesia.

Menurut Perry, sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional menghadapi berbagai tantangan global.

"Koordinasi fiskal-moneter yang sudah kuat terus akan diperkuat dari waktu ke waktu," ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang kuat dan mampu menghadapi tekanan eksternal.

BI Sudah Naikkan Suku Bunga Dua Kali Beruntun

Kenaikan BI-Rate menjadi 5,50 persen menandai perubahan arah kebijakan moneter Bank Indonesia setelah sebelumnya menjalankan siklus pelonggaran.

Sebagai catatan, sepanjang 2025 BI memangkas suku bunga acuan sebanyak lima kali dengan total penurunan mencapai 125 basis poin. Setelah mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen sejak September 2025, BI mulai berbalik menaikkan suku bunga pada Mei 2026 sebesar 50 bps menjadi 5,25 persen, sebelum kembali dinaikkan menjadi 5,50 persen pada Juni 2026.

Langkah agresif tersebut menunjukkan fokus utama Bank Indonesia saat ini adalah menjaga stabilitas rupiah dan mempertahankan kepercayaan investor di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi.

Editor : Hany Akasah
#suku bunga naik #bi-rate #bi #bank indonesia