Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Gubernur BI Pastikan Pelemahan Rupiah Bersifat Sementara, 5 Faktor Ini Jadi Penyelamat

Hany Akasah • Selasa, 9 Juni 2026 | 18:31 WIB
Gubernur BI Perry Warjiyo meyakini pelemahan rupiah di level Rp18.000 hanya sementara.
Gubernur BI Perry Warjiyo meyakini pelemahan rupiah di level Rp18.000 hanya sementara.

RADAR SURABAYA BISNIS - Bank Indonesia (BI) membawa angin segar terkait pergerakan nilai tukar rupiah yang saat ini tengah berada di level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). 

Otoritas moneter tersebut memproyeksikan bahwa pelemahan ini tidak akan berlangsung lama, dan rupiah berpotensi kembali menguat ke kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS pada tahun 2027.

Optimisme tersebut disampaikan langsung oleh Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran (Banggar) DPR RI pada Selasa (9/6/2026).

Baca Juga: Penuh Kejutan, Sempat Terbakar di Zona Merah, Sinergi Pemerintah dan BI Bawa Rupiah Menguat Rp 17.974 Sore Ini

"Mengenai nilai tukar, kami memandang 2027 nilai tukar akan menguat. Rupiah kisarannya sama dengan pemerintah, Rp16.800 sampai Rp17.500," ujar Perry.

Lebih lanjut, Perry memaparkan lima faktor fundamental yang akan menjadi katalis utama penguatan mata uang Garuda ke depannya:

1. Meredanya Ketegangan Geopolitik Global

BI memperkirakan kondisi ekonomi global tahun depan tidak akan seburuk tahun ini. Pertumbuhan ekonomi dunia diproyeksikan naik ke angka 3,1 persen. 

Meredanya kondisi geopolitik diharapkan mampu mendorong kembali aliran modal asing masuk ke negara-negara emerging market, termasuk Indonesia.

Baca Juga: IHSG Sukses Kembali ke Zona Hijau, Aksi Bargain Hunting dan Sentimen Perbankan Jadi Penyelamat

2. Fundamental Ekonomi Domestik yang Solid

Kondisi ekonomi Indonesia saat ini dinilai sangat kuat untuk menopang nilai tukar. Tingginya pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi yang terjaga rendah, defisit transaksi berjalan yang minim, serta imbal hasil yang menarik menjadi daya tarik utama bagi investor. 

"Cadangan devisa juga lebih dari cukup. Hal ini sejalan dengan adanya peningkatan ekspor," tegas Perry.

3. Kehadiran BUMN Ekspor (PT DSI)

Beroperasinya PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang difokuskan pada sektor ekspor dinilai akan memberikan kontribusi signifikan. 

Langkah ini diyakini mampu meningkatkan devisa hasil ekspor (DHE) dan penerimaan negara yang berujung pada penguatan suplai dolar di dalam negeri.

Baca Juga: BI Naikkan Suku Bunga Jadi 5,5 Persen demi Rupiah, DPR Beri Lampu Hijau Himbara Buyback Saham

4. Intervensi Terukur Bank Indonesia

BI menegaskan komitmennya untuk terus berada di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Hal ini dilakukan melalui berbagai langkah intervensi strategis dan penyusunan kebijakan yang responsif terhadap dinamika pasar global maupun domestik.

5. Sinergi Kebijakan Moneter dan Fiskal

Faktor terakhir adalah eratnya koordinasi antara Bank Indonesia selaku pemegang otoritas moneter dengan pemerintah pusat yang mengatur kebijakan fiskal. Sinergi ini krusial untuk memastikan setiap kebijakan yang diambil saling mendukung stabilitas makroekonomi nasional.

Baca Juga: Suhu Bromo Tembus Minus Hingga Bersalju, Cuan Mengalir Deras ke Sektor Pariwisata

"Jadi, lima faktor itu rupiah insyaallah tahun depan akan menguat kisarannya Rp16.800-Rp17.500," pungkas Gubernur BI menutup penjelasannya.

Dengan lima bantalan kuat tersebut, masyarakat dan pelaku usaha diharapkan tetap tenang merespons fluktuasi jangka pendek, mengingat proyeksi jangka menengah ekonomi Indonesia menunjukkan tren perbaikan yang solid.

Editor : Hany Akasah
#rupiah #gubernur bi #bank indonesia #dolar #perry warjiyo