RADAR SURABAYA BISNIS - Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hari Selasa (09/06/26) sukses mengejutkan pasar dengan volatilitasnya yang tinggi.
Setelah sempat dibuka melemah cukup tajam dan menyentuh level Rp18.185 per dolar AS pada perdagangan pagi, mata uang Garuda secara tak terduga berhasil membalikkan keadaan menjelang penutupan pasar sore ini.
Berdasarkan data terbaru pada pukul 17.01 WIB, rupiah terpantau menguat signifikan, mengandaskan mata uang Paman Sam ke posisi Rp17.974 per dolar AS.
Penguatan tajam sore ini mencatatkan apresiasi harian yang cukup masif bagi rupiah setelah sempat tertekan di zona merah sejak pembukaan perdagangan.
Para analis menilai, pembalikan arah yang dramatis ini dipicu oleh adanya sentimen positif di pasar domestik serta intervensi terukur dari bank sentral.
Momentum penguatan ini dipertegas oleh langkah berani Bank Indonesia (BI) yang resmi menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 bps menjadi 5,5% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan pada Selasa (09/06/2026).
Baca Juga: IHSG Sukses Kembali ke Zona Hijau, Aksi Bargain Hunting dan Sentimen Perbankan Jadi Penyelamat
Selaras dengan kebijakan tersebut, BI juga mengerek suku bunga Deposit Facility menjadi 4,50% dan suku bunga Lending Facility menjadi 6,25%.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa langkah pre-emptive ini diambil untuk merespons dinamika global serta menjaga target inflasi domestik.
"Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah serta sebagai langkah pre emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran $2,5 \pm 1\%$ yang ditetapkan Pemerintah."
Di sisi lain, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI menaruh perhatian serius terhadap saham-saham perbankan nasional yang sempat terperosok akibat sentimen negatif pasar global.
Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, langsung mengumpulkan para direktur utama Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) beserta sejumlah pelaku pasar seperti Taspen, BPJS, dan Indonesia Investment Authority (INA) di Kompleks Parlemen, Jakarta.
Pertemuan tertutup ini juga dihadiri oleh Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi serta COO Danantara, Dony Oskaria, guna mengevaluasi situasi sekaligus berdiskusi mengenai prospek industri perbankan tanah air.
“Kita berkumpul untuk koordinasi terutama kita akan berdiskusi banyak soal paket sama saham-saham BUMN. Pada hari ini Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia melakukan koordinasi dan berkoordinasi serta evaluasi terhadap situasi pada saat ini berkaitan dengan situasi perbankan di tanah air. Sebenarnya [fundamental] bagus-bagus, tapi kemudian dengan situasi pasar yang dipengaruhi global kemudian berdampak. Mungkin saham-saham yang pada saat ini bagus dan kemudian bisa dibeli kembali (buyback).” ujar Sufmi Dasco Ahmad saat membuka agenda tersebut.
Baca Juga: BI Naikkan Suku Bunga Jadi 5,5 Persen demi Rupiah, DPR Beri Lampu Hijau Himbara Buyback Saham
Menanggapi arahan tersebut, Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), Putrama Wahju Setyawan, menegaskan bahwa performa keuangan dan operasional bank-bank pelat merah saat ini justru sedang berada dalam kondisi prima.
"Tadi kami melaporkan kepada pimpinan DPR mengenai kinerja emiten dari Himbara. Dapat kami sampaikan bahwa secara fundamental kinerja di Himbara ini sangat bagus dan saat ini adalah kinerja terbaiknya Himbara. Jadi rekan-rekan media sekalian dapat kami sampaikan bahwa saat ini kinerja Himbara secara fundamental sangat bagus sehingga rasanya tidak perlu ada kekhawatiran, keraguan terhadap kondisi fundamental di bursa." elas Putrama.
Ketahanan fundamental tersebut dibuktikan melalui data operasional Himbara yang solid, di mana penyaluran kredit tumbuh di kisaran 20%, Dana Pihak Kasi (DPK) melesat antara 20% hingga 30%, likuiditas tetap aman dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) terjaga di level 88%–90%, serta rasio kredit macet (Non-Performing Loan/NPL) rata-rata berada di bawah 2%.
Sinergi kebijakan moneter dan evaluasi positif dari parlemen langsung direspons positif oleh pasar modal.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat signifikan pada perdagangan Selasa (9/6/2026) setelah sempat jatuh cukup dalam pada hari sebelumnya.
Berdasarkan data pasar per pukul 15.21 WIB, IHSG resmi menutup perdagangan hari ini dengan lonjakan luar biasa sebesar 339,60 poin atau melesat 6,36% ke level 5.681,74. Sepanjang hari, indeks bergerak fluktuatif dalam rentang 5.318,14 hingga 5.686,70.
Pergerakan liar ini menunjukkan pasar domestik sedang berada dalam fase mencari keseimbangan baru pasca-tekanan jual besar (sell-off).
Secara teknikal maupun psikologis, rebound tajam ini mencerminkan adanya aksi perburuan saham murah (bargain hunting) oleh para investor.
Lonjakan indeks hari ini ditopang oleh menghijaunya seluruh sektor saham, dipimpin oleh sektor industri yang melonjak 5,93%, sektor basis 5,71%, dan sektor energi 5,08%. Sebanyak 603 saham bergerak menguat, dengan total nilai transaksi harian pada sesi satu saja sudah mencapai Rp13,8 triliun.
Baca Juga: Gunakan Metode OODA Loop, Ini Kisah di Balik Lahirnya Buku Presiden Solusi Prabowo
Saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) non-perbankan menjadi pendorong utama indeks sejak pagi. Saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) memimpin penguatan dengan melonjak 8,94% ke level Rp2.560 per saham, menyusul pengumuman pembagian dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp21,9 triliun atau setara Rp221 per saham (yield sekitar 9%).
Kombinasi antara valuasi saham big caps yang menarik, kejelasan dividen TLKM, serta hasil evaluasi positif perbankan nasional berhasil memicu kembalinya kepercayaan investor di pasar modal Indonesia.
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menutup pertemuan di DPR dengan menyampaikan apresiasinya atas kolaborasi cepat seluruh pihak demi menjaga stabilitas ekonomi nasional.
"Oleh karena itulah kami terima kasih Pak Dony beserta dengan seluruh jajaran di Himbara, terus juga dari Taspen, BPJS, dan INA yang sebagai pelaku-pelaku pasar untuk terus berkoordinasi, terus saling berdiskusi untuk sekali lagi kita bekerja keras untuk bisa mengatasi permasalahan ekonomi sebagaimana yang kita harapkan bersama-sama." pungkas Prasetyo. (nov/han)