RADAR SURABAYA BISNIS - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan pergerakan yang fluktuatif pada sesi perdagangan yang berlangsung hari Selasa, 9 Juni 2026.
Berdasarkan pantauan data pasar keuangan teranyar menjelang tengah hari, mata uang Garuda kini tertekan hingga berada di posisi Rp18.185,00 per 1 dolar AS.
Angka yang bertahan di atas level psikologis baru Rp18.000 ini menjadi sorotan tajam para pelaku pasar, investor, hingga pengambil kebijakan.
Fluktuasi yang terjadi di zona ini dikhawatirkan akan memberikan dampak berantai yang signifikan terhadap kenaikan biaya impor bahan baku, lonjakan harga barang di tingkat konsumen, serta arah kebijakan moneter yang akan diambil oleh bank sentral dalam beberapa waktu ke depan.
Sejumlah analis keuangan menilai bahwa posisi rupiah di level Rp18.185,00 ini mencerminkan dinamika yang cukup kompleks dari perpaduan sentimen global yang agresif dan kondisi domestik.
Baca Juga: Rupiah Tertekan, Ini Strategi Jitu Kemenperin Selamatkan Industri Tekstil dan Plastik
Pelemahan mata uang Garuda kali ini dipicu oleh kombinasi sentimen global, mulai dari penguatan indeks dolar AS (DYX) hingga meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
Konflik yang terus memanas di kawasan tersebut memicu kekhawatiran baru karena berpotensi besar memengaruhi stabilitas harga minyak dunia dan meningkatkan volatilitas pasar global secara keseluruhan.
Situasi yang tidak menentu ini pada akhirnya mendorong para investor global untuk memburu aset-aset aman (safe haven) guna melindungi nilai kekayaan mereka.
Selain faktor geopolitik, keperkasaan dolar AS juga didorong oleh ekspektasi pasar bahwa bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), masih akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi (higher for longer) demi mengendalikan laju inflasi di negerinya.
Ketidakpastian mengenai kapan pelonggaran kebijakan moneter AS akan dimulai menjadi motor utama yang memicu penguatan indikasional dolar AS terhadap mayoritas mata uang negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.
Kondisi makro tersebut memicu terjadinya tekanan arus modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan domestik, karena dana global cenderung mengalir kembali ke aset-aset berbasis dolar yang dinilai lebih menjanjikan dan aman saat ini.
Di tingkat domestik, para pelaku pasar kini tengah mencermati dengan saksama rilis data indikator perekonomian nasional terbaru, mulai dari angka inflasi bulanan hingga performa neraca perdagangan kuartal berjalan.
Guna meredam volatilitas yang terlalu tajam dan menjaga kepercayaan pasar, Bank Indonesia (BI) dilaporkan terus bersiaga di pasar untuk melakukan langkah-langkah intervensi yang terukur.
Baca Juga: Razia Pajak Kendaraan Digelar di Surabaya hingga Akhir 2026, Bayar di Tempat Pakai QRIS
Langkah stabilisasi ini dilakukan baik melalui pasar spot maupun pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Selain itu, koordinasi antara otoritas moneter dan pemerintah terus diperkuat demi meminimalkan dampak gejolak eksternal terhadap stabilitas makroekonomian nasional sekaligus memberikan kepastian bagi para pelaku usaha.
Para ekonom memperkirakan bahwa arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek masih akan sangat bergantung pada perkembangan konflik geopolitik, pergerakan harga energi dunia, serta arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Selama faktor-faktor eksternal tersebut belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan yang signifikan, tekanan terhadap pergerakan rupiah diperkirakan masih akan terus berlanjut. (nov/han)