Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

IHSG dan Rupiah Tertekan, Kusfiardi: Pasar Sedang Menguji Kredibilitas Sistem Keuangan Indonesia

Hany Akasah • Senin, 8 Juni 2026 | 13:32 WIB
Kusfiardi, Analis Ekonomi Politik Menteng Kleb, Co-Founder FINE Institute. (IST/ RADAR SURABAYA BISNIS)
Kusfiardi, Analis Ekonomi Politik Menteng Kleb, Co-Founder FINE Institute. (IST/ RADAR SURABAYA BISNIS)

RADAR SURABAYA BISNIS - Tekanan yang terjadi di pasar keuangan Indonesia sepanjang Januari hingga awal Juni 2026 menunjukkan bahwa persoalan yang sedang dihadapi Indonesia jauh lebih besar daripada sekadar pelemahan harga saham atau depresiasi nilai tukar rupiah.

Koreksi IHSG yang telah mendekati 40 persen dari puncaknya pada Januari 2026 serta pelemahan rupiah yang menembus level Rp18.000 per dolar AS mencerminkan meningkatnya persepsi risiko terhadap pasar keuangan Indonesia secara keseluruhan.

Analis Ekonomi Politik Menteng Kleb sekaligus Co-Founder FINE Institute, Kusfiardi, menilai bahwa yang sedang mengalami koreksi bukan hanya harga aset keuangan, melainkan juga tingkat kepercayaan investor terhadap ketahanan struktur pasar keuangan nasional.

Baca Juga: Suarakan Kesetaraan Melalui Sinema, Ribuan Teman Disabilitas Nobar Film Semua Akan Baik Baik Saja

"Yang sedang dikoreksi pasar bukan hanya saham dan rupiah. Yang sedang dinilai ulang adalah risiko Indonesia itu sendiri. Karena itu, gejolak yang terjadi saat ini perlu dibaca lebih dalam daripada sekadar volatilitas pasar biasa," ujar Kusfiardi.

Menurutnya, terdapat sejumlah temuan penting yang perlu menjadi perhatian pemerintah dan otoritas keuangan. Pertama, tekanan pasar tidak dapat dijelaskan hanya oleh faktor eksternal seperti penguatan dolar AS, konflik geopolitik, atau tingginya suku bunga global.

Faktor-faktor tersebut memang menjadi pemicu, namun kedalaman koreksi yang terjadi menunjukkan adanya persoalan domestik yang lebih mendasar, yaitu struktur pasar yang masih dangkal dan ketergantungan yang tinggi terhadap arus modal asing.

Kedua, peristiwa rebalancing indeks MSCI pada Mei 2026 memperlihatkan betapa besarnya pengaruh institusi keuangan global terhadap pasar Indonesia. Keluarnya sejumlah saham besar dari indeks tersebut memicu arus keluar dana asing dalam jumlah besar dan mempercepat tekanan terhadap pasar saham maupun nilai tukar.

Baca Juga: Ketegangan Timur Tengah Mereda, Harga Minyak Mentah RI (ICP) Turun Drastis ke USD106,56

"MSCI memang bukan regulator Indonesia. Namun keputusan lembaga indeks global mampu memengaruhi likuiditas, biaya modal, dan persepsi risiko pasar Indonesia secara langsung. Ini menunjukkan bahwa pasar kita masih sangat sensitif terhadap keputusan aktor keuangan global," jelasnya.

Ketiga, tekanan yang terjadi di pasar saham jauh lebih besar dibanding pelemahan nilai tukar. Sejak awal tahun hingga awal Juni 2026, rupiah melemah sekitar 10 persen, sementara IHSG terkoreksi mendekati 40 persen dari titik tertingginya.

Menurut Kusfiardi, perbedaan tersebut menunjukkan bahwa investor tidak hanya mengurangi eksposur terhadap rupiah, tetapi juga melakukan repricing terhadap aset dan risiko Indonesia secara keseluruhan.

"Jika rupiah melemah 10 persen tetapi pasar saham jatuh hampir empat kali lebih dalam, maka ada pesan yang lebih besar daripada sekadar penguatan dolar AS. Pasar sedang melakukan penilaian ulang terhadap prospek dan risiko Indonesia," katanya.

Keempat, investor domestik memang berhasil menjadi penyangga pasar di tengah arus keluar dana asing. Namun, kemampuan tersebut masih memiliki keterbatasan.

Menurut Kusfiardi, keberhasilan investor domestik menyerap sebagian tekanan jual asing tidak boleh diartikan bahwa struktur pasar telah kuat. Justru kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan yang sedang terjadi sangat besar sehingga membutuhkan penyerapan yang luar biasa dari pelaku domestik.

Baca Juga: Bawang Putih dan Cabai Rawit di Jatim Naik Lagi, Cek Harga Hari Ini yang Makin Pedas Sebelum ke Pasar

Ia menilai bahwa terdapat satu isu penting yang relatif luput dari perhatian publik, yakni pergeseran fokus pasar dari persoalan likuiditas menuju persoalan kredibilitas. Selama beberapa pekan terakhir, pemerintah, Bank Indonesia, OJK, dan Bursa Efek Indonesia telah mengambil berbagai langkah stabilisasi, mulai dari intervensi pasar valas, dukungan terhadap pasar obligasi, relaksasi buyback saham, hingga penyesuaian kebijakan perdagangan.

Langkah-langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga stabilitas jangka pendek. Namun, pasar saat ini tidak hanya menguji kekuatan rupiah atau level IHSG.

"Pasar sedang menguji kredibilitas kebijakan, kepastian regulasi, kualitas tata kelola, dan kemampuan negara menjaga stabilitas sistem keuangan. Karena itu, tantangan yang dihadapi saat ini bukan semata persoalan likuiditas, tetapi juga persoalan kepercayaan," tegasnya.

Dalam konteks tersebut, FINE Institute juga menilai berbagai proyeksi optimistis mengenai penguatan rupiah perlu dibaca secara hati-hati. Secara teoritis, rupiah memang dapat kembali menguat apabila terjadi pembalikan arus modal asing, peningkatan devisa ekspor, membaiknya sentimen global, serta pulihnya kepercayaan investor.

Namun dalam kondisi saat ini, ketika IHSG masih berada dalam tren koreksi tajam, rupiah berada di salah satu level terlemahnya dalam dua dekade terakhir, dan arus keluar modal asing masih berlangsung, pasar belum melihat faktor-faktor fundamental yang cukup kuat untuk mendukung penguatan rupiah secara agresif dalam waktu dekat.

"Pasar tidak bekerja berdasarkan target atau harapan semata. Pasar bekerja berdasarkan kepercayaan. Selama faktor-faktor yang menjadi sumber kekhawatiran investor belum terjawab, maka volatilitas masih akan tetap tinggi," kata Kusfiardi.

Ia menegaskan bahwa pelajaran terbesar dari gejolak pasar sepanjang Mei hingga awal Juni 2026 adalah masih tingginya ketergantungan pasar keuangan Indonesia terhadap modal asing dan sentimen global.

Baca Juga: Lewat Dua Strategi Ini, Pemerintah, DPR dan BI Bersinergi Dongkrak Kepercayaan Pasar terhadap Rupiah

Karena itu, agenda yang paling mendesak bukan hanya menjaga stabilitas jangka pendek, tetapi melakukan reformasi struktural untuk memperdalam pasar keuangan domestik, memperkuat investor institusional nasional, meningkatkan free float, memperbaiki tata kelola pasar, serta menciptakan kepastian kebijakan yang lebih kuat.

"Jika tidak ada penguatan fondasi pasar keuangan domestik, maka setiap perubahan sentimen global akan terus menghasilkan tekanan yang besar terhadap pasar Indonesia. Gejolak yang terjadi saat ini harus menjadi momentum untuk membangun pasar keuangan yang lebih tahan terhadap guncangan eksternal," pungkasnya. (nov/han)

Editor : Hany Akasah
#rupiah #Kusfiardi #ekonomi #ihsg #indonesia