Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Rupiah Terkapar di Level Rp 18.080, Sektor Industri Dibayangi Lonjakan Biaya Impor

Hany Akasah • Senin, 8 Juni 2026 | 08:37 WIB
RUPIAH ANJLOK : Nilai tukar Rupiah terpantau tertekan hebat pada perdagangan awal pekan ini, Senin (8/6), hingga menyentuh kisaran Rp 18.080,05 per Dolar AS. (IST/ RADAR SURABAYA BISNIS)
RUPIAH ANJLOK : Nilai tukar Rupiah terpantau tertekan hebat pada perdagangan awal pekan ini, Senin (8/6), hingga menyentuh kisaran Rp 18.080,05 per Dolar AS. (IST/ RADAR SURABAYA BISNIS)

RADAR SURABAYA BISNIS - Nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan tren pelemahan yang cukup signifikan pada perdagangan yang berlangsung hari Senin (08/06/26).

Berdasarkan pembaruan data pasar keuangan terbaru, kurs mata uang Garuda kini terperosok dan bertengger di kisaran Rp18.080,05 per Dolar AS. Fluktuasi tajam ini mencerminkan tingginya dinamika di pasar global yang saat ini tengah bergerak sangat volatil.

Keperkasaan indeks Dolar AS (kebijakan greenback) yang terus menguat di pasar internasional tampaknya menjadi faktor utama yang membayangi sekaligus menekan pergerakan berbagai mata uang utama di kawasan Asia, di mana Rupiah menjadi salah satu mata uang yang terdampak paling cukup berasa.

Baca Juga: Jawa Timur Bidik Posisi Pusat Industri Mebel dan Kerajinan Terbesar di ASEAN

Jika menilik lebih jauh berdasarkan visualisasi pergerakan grafik pasar real-time yang sempat terekam, pergerakan grafik harian sebenarnya menunjukkan bahwa nilai tukar sempat berada di level Rp18.071,75 per Dolar AS pada pukul 01.16 UTC.

Pada momentum tersebut, terdapat tren kenaikan harian Dolar AS terhadap Rupiah sebesar +0,20% atau setara dengan kenaikan sebesar +35,7500 poin.

Angka ini merepresentasikan adanya pergerakan naik yang konsisten dan agresif jika dibandingkan dengan posisi penutupan pasar sebelumnya (previous close) yang berada di level Rp18.036,00. Dolar AS Mengamuk hingga 18.080 Rupiah, Sektor Industri Dibayangi Lonjakan Biaya Impor

Lonjakan ini mengindikasikan bahwa tekanan jual terhadap Rupiah masih berlangsung relatif masif sejak pembukaan perdagangan.

Kondisi tren penguatan Dolar AS yang terus menembus batas psikologis baru ini sontak memicu kekhawatiran serta perhatian besar dari para pelaku pasar, investor, dan pengamat ekonomi nasional.

Baca Juga: Siap Dilelang Ulang, Calon Tol Terpanjang di Indonesia Dapat Bantuan Kemenkeu

Situasi ini dinilai dapat berdampak pada membengkaknya biaya impor bahan baku serta tekanan inflasi di dalam negeri jika terus dibiarkan berlarut-larut.

Oleh karena itu, pasar saat ini sedang bersikap wait and see sembari mengantisipasi respons kebijakan fiskal dari pemerintah serta intervensi moneter lanjutan dari Bank Indonesia, baik melalui mekanisme triple intervention di pasar spot maupun pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), demi menjaga stabilitas fundamental nilai tukar domestik agar tidak terkoreksi lebih dalam. (nov/han)

Editor : Hany Akasah
#rupiah #moneter #bank indonesia #dolar #impor