RADAR SURABAYA BISNIS - Nilai tukar rupiah kian tertekan hingga menyentuh angka Rp18.095 per dolar Amerika Serikat (AS).
Kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian membuat sebagian masyarakat mulai melirik investasi valuta asing (valas) sebagai instrumen pelindung nilai aset (safe haven).
Namun, apakah kondisi saat ini merupakan momentum yang tepat untuk masuk ke investasi valas? Para perencana keuangan memberikan sejumlah panduan penting agar investor tidak salah langkah mengambil keputusan.
Baca Juga: Kucurkan APBD dan APBN, Sidoarjo Targetkan Bedah Ratusan Rumah Tak Layak Huni pada 2026
1. Hindari Masuk Pasar Secara Agresif
Perencana Keuangan Advisors Alliance Group Indonesia, Dandy, mengingatkan bahwa saat ini belum menjadi waktu yang ideal untuk masuk ke instrumen valas secara terburu-buru dan agresif.
Banyak faktor yang membuat pergerakan kurs sulit diprediksi, mulai dari ekonomi domestik, arah kebijakan fiskal, sentimen investor, hingga potensi intervensi Bank Indonesia.
"Menurut saya pribadi sih sekarang belum jadi waktu yang tepat buat masuk valas ya apalagi secara agresif. Masih banyak ketidakpastian," tegasnya.
Baca Juga: Intip Teknologi Maritim Modern, Sekolah Singapura Kunjungi PT Terminal Teluk Lamong
2. Terapkan Strategi Dollar Cost Averaging (DCA)
Bagi masyarakat yang tetap ingin mengoleksi valas, Perencana Keuangan Andi Nugroho menyarankan penggunaan strategi bertahap atau dollar cost averaging.
Caranya adalah dengan mulai mencicil pembelian valas sedikit demi sedikit secara berkala dalam jangka waktu tertentu.
Strategi ini diklaim dapat membantu meminimalisasi risiko membeli pada harga yang terlalu tinggi sekaligus meredam dampak fluktuasi kurs yang tajam. Dengan begitu, investor tidak perlu menebak kapan titik tertinggi atau terendah nilai tukar terjadi.
Baca Juga: Nilai Tukar Dolar AS Tembus Rp18.095, Keberadaan Money Changer di Gresik Terpantau Landai
3. Lakukan Diversifikasi, Jangan Hanya Dolar AS
Banyak yang menganggap investasi valas selalu identik dengan dolar AS. Padahal, Andi menyarankan agar investor tidak menempatkan seluruh dananya pada satu mata uang saja guna mengurangi risiko.
Mata uang yang relatif kuat dan stabil seperti dolar Australia (AUD), dolar Singapura (SGD), dan yen Jepang (JPY) bisa menjadi alternatif.
Senada dengan hal tersebut, Dandy juga menambahkan franc Swiss (CHF) sebagai pilihan menarik karena dikenal memiliki stabilitas yang relatif baik. Tentu saja, pemilihan mata uang tetap harus disesuaikan dengan tujuan investasi dan profil risiko masing-masing.
Baca Juga: Emak-Emak Harap Bersiap, Harga Kentang hingga Tomat di Jatim Kompak Naik Hari Ini
4. Deposito dan Reksa Dana Pasar Uang Sebagai Alternatif
Bagi investor yang masih ragu, mengambil sikap wait and see bukanlah sebuah kesalahan. Dandy merekomendasikan masyarakat untuk mempertahankan likuiditas dan memarkir dananya pada instrumen konservatif hingga arah ekonomi lebih jelas.
"Tapi saran saya, better keep cash dulu wait and see sampai sudah ada kepastian benar. Sebagai alternatif bisa switch ke yang aman dulu seperti deposito atau reksa dana pasar uang," pungkasnya.
Baca Juga: Melemah di Pekan Pertama Juni, Harga Jual dan Buyback Emas Kompak Anjlok
Editor : Hany Akasah