Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Media Asing Kompak Soroti Kejatuhan Rupiah ke Rp18.000, Level Terlemah dalam Sejarah

Hany Akasah • Jumat, 5 Juni 2026 | 11:07 WIB
CETAK REKOR : Mata uang Garuda mencetak rekor terendah sepanjang sejarah setelah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Fenomena ini bikin gempar panggung ekonomi dan langsung jadi headline di berbagai media internasional. (IST/ JPNN)
CETAK REKOR : Mata uang Garuda mencetak rekor terendah sepanjang sejarah setelah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Fenomena ini bikin gempar panggung ekonomi dan langsung jadi headline di berbagai media internasional. (IST/ JPNN)

RADAR SURABAYA BISNIS -  Sejumlah media internasional menyoroti jebloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang menyentuh angka Rp18.000 per dolar AS sejak  Kamis (4/6/2026).

Pelemahan tajam ini mencatatkan rekor baru sebagai level terendah sepanjang sejarah Indonesia, memicu perhatian besar dari berbagai lembaga pemberitaan global.

Media Qatar, Al Jazeera, menggarisbawahi kondisi ini dengan menyoroti lonjakan biaya energi sebagai pemicu utama. Kondisi tersebut diperparah oleh eskalasi geopolitik akibat perang AS-Israel vs Iran.

Mengingat Indonesia merupakan importir bersih (net importer) minyak, lonjakan harga minyak mentah global langsung memukul telak kas negara.

Baca Juga: Fluktuasi Emas Awal Juni 2026, Menguat Tipis di Tengah Ketidakpastian Global

"Rupiah Indonesia telah mencapai level terlemahnya terhadap dolar AS, menembus ambang batas psikologis 18.000 di tengah melonjaknya biaya energi. Tekanan yang dihasilkan pada neraca perdagangan telah berkontribusi pada arus keluar modal dan pelemahan mata uang," demikian laporan Al Jazeera.

Kritik tajam datang dari media asal Hong Kong, Asia Times. Dalam artikel berjudul "Indonesia's rupiah rout is not just about the dollar", mereka menekankan bahwa kemerosotan ini terjadi akibat pemerintah dan Bank Indonesia (BI) yang dinilai bertindak terlalu lambat, ragu-ragu, dan tidak konsisten dalam menghadapi situasi pasar selama dua bulan terakhir.

Asia Times mencermati adanya fenomena kelebihan beban ekstrem (extreme overburdening) yang membuat pasar domestik goyah.

"Keruntuhan mata uang tersebut tidak lagi mencerminkan fundamental daya beli yang mendasarinya, tetapi mencerminkan ketidakseimbangan pasar yang didorong oleh kepanikan, pelarian modal besar-besaran, dan kekurangan likuiditas dolar akut di pasar spot domestik," tulis Asia Times.

Lebih lanjut, bank sentral dinilai terlalu terlena dengan melandainya inflasi domestik yang sempat turun ke angka 2,42% pada April 2026, sehingga terlambat mengantisipasi tekanan eksternal.

Baca Juga: Harga Sembako di Jawa Timur Merangkak Naik, Minyak Goreng dan Bawang Alami Lonjakan

Langkah BI yang memilih menggunakan instrumen non-suku bunga juga dianggap gagal menghentikan kejatuhan rupiah.

"Krisis yang sedang berkembang ini diperparah oleh keterlambatan respons Bank Indonesia terhadap meningkatnya tekanan pasar. Bank central terlalu terlena dengan moderasi inflasi domestik, yang turun menjadi 2,42 persen pada April 2026," lanjut Asia Times

Dua media besar Singapura, Channel News Asia (CNA) dan The Straits Times, juga memberikan porsi pemberitaan yang besar. CNA yang mengutip AFP melaporkan bahwa rupiah sempat menyentuh angka 18.028 terhadap greenback, meskipun ada upaya intervensi dari bank sentral.

"Rupiah Indonesia mencapai level terlemahnya terhadap dolar AS pada Kamis (4 Juni), menembus ambang batas psikologis 18.000 di tengah kekhawatiran tentang perekonomian negara di tengah melonjaknya biaya energi. Rupiah telah jatuh lebih dari 7% tahun ini dan merupakan mata uang dengan kinerja terburuk di Asia, menurut Bloomberg News, karena perang AS-Israel terhadap Iran menyebabkan harga minyak global melonjak," muat laman CNA.

Pelemahan ini juga didorong oleh menyempitnya surplus perdagangan Indonesia secara drastis akibat tingginya biaya impor minyak mentah, di tengah upaya keras pemerintah mempertahankan harga bahan bakar bersubsidi. Mengutip ekonom lokal Josua Pardede, CNA menuliskan:

"Surplus perdagangan negara telah terpukul, menyempit menjadi hanya US$89 juta pada bulan April, dari US$3,3 miliar sebulan sebelumnya, yang semakin mengurangi pasokan dolar di pasar Indonesia."

Sementara itu, The Straits Times mengabarkan bahwa kejatuhan rupiah ini terjadi bersamaan dengan rontoknya saham-saham di dalam negeri.

Selain faktor harga minyak, kebijakan internal Presiden Prabowo Subianto yang mengumumkan bahwa pemerintah akan mengendalikan langsung ekspor sejumlah komoditas penting turut memicu kekhawatiran pasar dan memperlemah sentimen investor.

Baca Juga: Rombak Skema Haji 2027, Arab Saudi Terapkan 3 Kategori Baru Pengganti Paket D

"Dalam beberapa minggu terakhir, kekhawatiran tentang pengawasan pemerintah yang lebih ketat terhadap sektor komoditas utama juga telah melemahkan sentimen," tulis The Straits Times.

Dalam artikel terpisah berjudul "Rupiah falls through key psychological level, putting markets on guard for intervention", The Straits Times yang merujuk data Bloomberg melaporkan bahwa rupiah tidak hanya takluk di hadapan dolar AS, tetapi juga mencetak rekor terendah baru terhadap dolar Singapura (SGD).

"Rupiah Indonesia jatuh di bawah level psikologis kunci 18.000 per dolar AS pada 4 Juni, membuat pengamat pasar waspada terhadap intervensi dari bank sentral negara tersebut. Nilai tukar rupiah merosot 0,35% menjadi 18.029,5 per dolar AS pada pukul 11.06 pagi waktu Singapura, sehingga penurunan nilai tukar pada tahun 2026 mencapai lebih dari 7%," tulis The Straits Times.

Laporan tersebut menambahkan bahwa terhadap dolar Singapura, rupiah jatuh 0,32% ke level 14.047,71, mengakumulasikan penurunan sebesar 9,3% sejak awal tahun. Situasi ini dinilai menjadi ujian kritis bagi para pembuat kebijakan di Indonesia untuk memulihkan kepercayaan pasar.

"Penembusan di bawah 18.000 dapat mempercepat arus keluar dana asing dari saham dan obligasi lokal, menjadikan level tersebut sebagai ujian penting bagi para pembuat kebijakan yang berupaya memulihkan kepercayaan pada ekonomi yang menghadapi tantangan yang semakin besar," tambah laman tersebut.

Tekanan terhadap aset Indonesia kian berat setelah munculnya peringatan dari MSCI, serta revisi prospek kedaulatan negara oleh lembaga pemeringkat internasional.

"Sentimen investor terhadap aset Indonesia memburuk pada tahun 2026 setelah MSCI memperingatkan bahwa negara tersebut dapat diklasifikasikan ulang sebagai pasar negara berkembang, sementara Fitch Ratings dan Moody's Ratings merevisi prospek mereka terhadap kedaulatan negara. Kekhawatiran juga meningkat atas upaya pemerintah untuk melakukan kontrol yang lebih besar terhadap ekspor komoditas utama," tutup laporan The Straits Times. (nov/han)

Editor : Hany Akasah
#rupiah #18.000 #media asing #indonesia #dolar