Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Rupiah Tembus Rekor Terendah Rp18.075 per Dolar AS, Eskalasi Geopolitik dan Defisit Jadi Pemicu

Hany Akasah • Jumat, 5 Juni 2026 | 08:48 WIB
ILUSTRASI:  Nilai tukar Rupiah kembali mengalami pelemahan hingga menyentuh level terendah sepanjang masa di Rp18.075 per dolar AS pada perdagangan Jumat (5/6/2026).
ILUSTRASI: Nilai tukar Rupiah kembali mengalami pelemahan hingga menyentuh level terendah sepanjang masa di Rp18.075 per dolar AS pada perdagangan Jumat (5/6/2026).

RADAR SURABAYA BISNIS – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menghadapi tekanan berat pada perdagangan Jumat (5/6/2026). 

Rupiah ditutup melemah 0,46% atau 82 poin ke level Rp18.075 per dolar AS, mencatatkan level terendah sepanjang masa di tengah menguatnya ketidakpastian global dan domestik.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan depresiasi ini masih akan membayangi pasar. Menurutnya, rupiah diprediksi akan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah di rentang Rp18.050 hingga Rp18.120 per dolar AS.

Baca Juga: Rombak Skema Haji 2027, Arab Saudi Terapkan 3 Kategori Baru Pengganti Paket D

"Sentimen yang menyertai rupiah di pasar keuangan datang dari perkembangan konflik geopolitik global. Investor tetap berhati-hati di tengah meningkatnya ketegangan militer di Timur Tengah," ujar Ibrahim, Kamis (4/6/2026).

Pelemahan nilai tukar ini tidak lepas dari meluasnya operasi militer di Lebanon selatan dan kesepakatan gencatan senjata yang masih bergantung pada penghentian permusuhan.

Eskalasi yang turut melibatkan Iran dan Amerika Serikat ini mengerek premi risiko harga minyak, yang otomatis memperbesar tekanan bagi negara importir energi seperti Indonesia.

Baca Juga: Bukan Cuma Jaga Lingkungan, Green Tourism Bawa Angin Segar untuk Pertumbuhan Bisnis UMKM

Selain geopolitik, rilis data ekonomi AS turut menjadi katalis. Laporan data perusahaan pemroses penggajian ADP menunjukkan adanya penambahan 122.000 pekerjaan swasta pada bulan Mei. 

Angka yang melampaui ekspektasi ekonom ini memicu kekhawatiran pasar akan kebijakan suku bunga AS yang masih akan dipertahankan tinggi.

Dari sisi internal, sentimen negatif muncul dari kekhawatiran pasar terhadap risiko defisit fiskal yang mendekati batas 3%. Lonjakan harga minyak mentah global dinilai akan membebani postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Baca Juga: Ekonomi Pertanian Menguat, Jatim Proyeksikan Panen 7,71 Juta Ton Padi di 2026

Tim Riset Sinarmas Sekuritas menyoroti bahwa pelemahan rupiah di atas Rp18.000 merupakan sinyal meningkatnya tekanan struktural terhadap posisi eksternal Indonesia. 

Arus keluar dana asing (capital outflow) dipicu oleh penyesuaian indeks MSCI, menyusutnya surplus perdagangan, serta membengkaknya biaya impor energi.

"Tekanan terhadap rupiah mencerminkan kombinasi faktor eksternal dan domestik yang belum menunjukkan tanda mereda," tulis Sinarmas Sekuritas dalam risetnya. Pasar juga kini bersikap wait and see menunggu hasil peninjauan klasifikasi pasar oleh MSCI pada 18 Juni mendatang.

Baca Juga: Berkomplot dan Tahu Borok Masing-masing, Dadan Cs Diduga Korupsi Anggaran MBG Rp268 Triliun

Di tengah tantangan ini, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai masih ada skenario positif jika terdapat intervensi agresif dari Bank Indonesia (BI), kepastian independensi BI, dan disiplin pemerintah dalam menjaga postur APBN. 

Namun, jika intervensi politik membayangi BI di tengah lebarnya defisit transaksi berjalan, skenario negatif rupiah masih akan terus mengintai stabilitas ekonomi nasional.

Baca Juga: Harga Minyakita Akan Naik Pekan Depan, Harga CPO Melonjak Tajam

Editor : Hany Akasah
#rupiah #ekonomi #timur tengah #dolar #nilai tukar