RADAR SURABAYA BISNIS - Nilai tukar rupiah dilaporkan resmi melewati batas psikologis baru dengan menembus angka Rp18.027 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis pagi, 4 Juni 2026.
Berdasarkan data real-time dari platform Investing, mata uang Garuda merosot ke zona merah setelah sempat tertahan di posisi Rp17.966 pada penutupan hari sebelumnya.
Pergeseran dramatis ini merefleksikan tingginya kekhawatiran pasar global terhadap ketahanan fiskal dan aliran modal keluar, di samping tekanan eksternal seperti kebijakan suku bunga tinggi di negara barat serta ketegangan geopolitik dunia yang belum mereda.
Menanggapi situasi kritis ini, Kepala Pusat Makroekonomi Indef, M Rizal Taufikurahman, memperingatkan adanya ancaman laten berupa guncangan hebat terhadap stabilitas domestik jika depresiasi ini berlangsung terlalu lama.
Pelemahan nilai tukar dipastikan memicu terjadinya imported inflation atau inflasi akibat lonjakan biaya impor. Sektor-sektor strategis yang bergantung pada bahan baku luar negeri, seperti industri pangan, obat-obatan, perangkat elektronik, bahan bakar minyak (BBM), hingga manajemen logistik nasional akan langsung menghadapi pembengkakan modal produksi yang masif.
Analis komoditas Ibrahim Assuaibi dan Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira sepakat bahwa jebolnya angka Rp18.000 akan memicu efek domino yang berbahaya di tingkat konsumen.
Transmisi kenaikan harga barang retail diprediksi terjadi jauh lebih cepat karena pelaku usaha tidak mampu lagi menahan beban biaya produksi. Akibatnya, masyarakat khususnya kelompok kelas menengah ke bawah akan langsung terjepit oleh lonjakan harga komoditas utama di pasar lokal, sementara pendapatan mereka cenderung stagnan.
Baca Juga: Sentuh Rp 18.000, Rupiah Terkapar di Level Terlemah Sejarah, KSSK Tunggu Aba-Aba Bank Indonesia
Kondisi ini diperparah oleh adanya risiko psikologis pasar berupa spiral down effect, di mana para investor dan kelompok masyarakat kelas atas cenderung mengalihkan aset mereka dari rupiah ke valuta asing untuk mengamankan kekayaan.
Jika aksi borong dolar AS ini terus berlanjut, tekanan terhadap mata uang domestik akan semakin dalam. Dalam jangka menengah, situasi ini berpotensi memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal pada industri padat karya, memutus pendapatan pekerja, dan pada akhirnya berujung pada lonjakan angka kemiskinan serta pengangguran.
Guna menahan kejatuhan rupiah yang lebih dalam, otoritas moneter dan fiskal dituntut segera bersinergi kuat demi memulihkan kepercayaan pasar.
Baca Juga: Produksi Susu Jawa Timur Terbesar di Indonesia, Tapi Masih Akan Impor Ribuan Sapi Perah
Bank Indonesia perlu memperketat stabilisasi nilai tukar di pasar spot maupun forward sekaligus menjaga daya tarik aset domestik. Di sisi lain, Kementerian Keuangan harus memperkuat kredibilitas pengelolaan fiskal, menjaga defisit tetap aman, serta mempercepat penyerapan Devisa Hasil Ekspor (DHE).
Untuk solusi jangka panjang, penguatan struktur industri nasional dan pengurangan ketergantungan pada bahan baku impor menjadi harga mati agar ekonomi Indonesia tidak terus-menerus rentan terhadap gejolak global. (nov/han)