RADAR SURABAYA BISNIS — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan hebat hingga mendekati level psikologis baru. Pada perdagangan Kamis (4/6/2026), terpantau kurs 1 dolar AS bahkan telah menyentuh kisaran Rp 18.015,05.
Sebari sebelumnya pada penutupan Rabu (3/6/2026), rupiah di pasar spot berdasarkan data Bloomberg ditutup melemah 127,5 poin atau 0,71% ke level Rp 17.967 per dolar AS dari posisi hari sebelumnya di Rp 17.839. Posisi ini mencetak rekor sebagai level terlemah rupiah sepanjang masa.
Meningkatnya kekhawatiran inflasi domestik, menyempitnya surplus perdagangan, serta memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang membebani mata uang Garuda.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan sentimen terhadap rupiah memburuk setelah inflasi Indonesia pada Mei 2026 meningkat menjadi 0,28% secara bulanan (month-to-month/mtm), lebih tinggi dibandingkan inflasi April yang sebesar 0,13%. Kenaikan tersebut mendorong Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 111,09 pada April menjadi 111,40 pada Mei 2026. Secara tahunan, inflasi Indonesia tercatat sebesar 3,08%.
“Ada pun sejumlah faktor yang dinilai paling memengaruhi pergerakan inflasi Mei 2026 antara lain harga pangan (volatile food), harga energi, harga yang diatur pemerintah (administered prices), serta pelemahan nilai tukar rupiah,” terang Ibrahim, Rabu (3/6/2026).
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Anjlok Lewati Rp 18.000, Apa Penyebab Utamanya?
Di sisi lain, data perdagangan Indonesia juga belum sepenuhnya mampu menopang pergerakan rupiah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), meskipun neraca perdagangan April 2026 masih mencatat surplus sebesar US$ 89,1 juta—memperpanjang tren surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020—nilai surplus tersebut menyusut tajam. Surplus April terutama ditopang oleh surplus neraca nonmigas sebesar US$ 3,53 miar.
Dari sisi eksternal, investor terus memantau perkembangan konflik di Timur Tengah. Ketegangan meningkat setelah Israel melanjutkan operasi militer di Lebanon Selatan, sementara Iran dilaporkan meluncurkan rudal balistik ke Kuwait dan Bahrain.
Di saat yang sama, pasukan AS disebut melakukan serangan terhadap Pulau Qeshm di Iran yang berada dekat Selat Hormuz. Ibrahim menambahkan bahwa terganggunya pasokan global dipengaruhi oleh blokade Selat Hormuz oleh pasukan Garda Revolusi Iran yang hingga kini belum jelas kapan akan kembali dibuka. Jalur strategis ini dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak dunia.
Memanasnya konflik tersebut memicu lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan kekhawatiran inflasi global. Kondisi ini mendorong spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan kembali menaikkannya.
Baca Juga: Maskapai Saudia Pangkas Tarif Penerbangan, Harga Paket Umrah Bakal Lebih Murah?
Menyikapi kondisi ini, Menteri Keuangan sekaligus Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Purbaya Yudhi Sadewa, menyerahkan sepenuhnya penanganan pelemahan nilai tukar rupiah kepada Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter.
"Pertama itu kan jurisdiksi Bank Sentral untuk menjaga nilai tukar. Itu biar mereka jalan dulu. Nanti kita lakukan rapat berkala secara normal aja," kata Purbaya di Kompleks Parlemen pada Rabu (3/6/2026).
Purbaya menjelaskan bahwa KSSK siap menggelar rapat darurat apabila ada permintaan langsung dari bank sentral untuk merespons perkembangan nilai tukar.
"Kalau kita bisa melihat ada koordinasi yang bisa ditingkatkan sehingga memperbaiki nilai tukar, kita akan lakukan. Tapi sekarang itu masih dalam jurisdiksi bank sentral kita. Kecuali Bank Sentral minta rapat cepat, ya kita akan rapat cepat," ujar Purbaya.
Meski terjadi pelemahan dalam beberapa hari terakhir, Purbaya menilai tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen pasar dan spekulasi yang berkembang secara tiba-tiba, bukan karena kondisi fundamental ekonomi nasional.
Baca Juga: Pakai Rompi Pink dan Diborgol, Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana Digiring ke Mobil Tahanan Kejagung
Ia juga membantah kabar yang menyebut dirinya meminta perbankan melakukan simulasi (stress test) terhadap skenario pelemahan rupiah hingga di atas Rp 18.000 per dolar AS. Purbaya memastikan KSSK tetap melakukan koordinasi rutin, termasuk rapat tingkat deputi setiap bulan untuk memantau perkembangan ekonomi dan sektor keuangan nasional.
Saat ini, pemerintah memilih fokus memperkuat fondasi ekonomi nasional melalui berbagai kebijakan yang mendukung pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, kekuatan fundamental ekonomi akan menjadi faktor utama yang menentukan arah pergerakan rupiah dalam jangka panjang. (nov/han)