RADAR SURABAYA BISNIS – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mendapat tekanan hebat hingga menembus level psikologis baru.
Pada awal perdagangan Kamis (4/6/2026), mata uang Garuda terpantau melemah dan bergerak di atas angka Rp18.000 per dolar AS.
Berdasarkan pantauan data *Investing* pada Kamis pagi, kurs dolar AS sempat berada di level Rp18.015, menguat sekitar 0,28 persen atau 49,4 basis poin.
Baca Juga: Maskapai Saudia Pangkas Tarif Penerbangan, Harga Paket Umrah Bakal Lebih Murah?
Kondisi serupa juga tercermin di sejumlah platform penyedia data keuangan lain yang menunjukkan tren pelemahan rupiah terhadap mata uang Negeri Paman Sam.
Merespons kondisi tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa langsung angkat bicara. Ia menepis isu yang menyebutkan bahwa pelemahan rupiah ini diakibatkan oleh kebijakan fiskal pemerintah yang tidak terkendali.
"Banyak yang bilang (rupiah melemah) gara-gara fiskalnya berantakan. Kalau ada isu pemerintah kebijakannya ngawur, fiskalnya ugal-ugalan, enggak begitu," tegas Purbaya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Baca Juga: Resmi! Merger KAI dan INKA Ditargetkan Rampung Tahun Ini, KAI Jadi Holding Utama
Ia justru menekankan bahwa kondisi fundamental fiskal Indonesia saat ini terbilang solid, bahkan lebih baik dibandingkan tahun lalu.
Hal ini dibuktikan dengan pertumbuhan penerimaan pajak pada 2026 yang menunjukkan hasil positif dari reformasi perpajakan.
Para analis menilai, pelemahan rupiah kali ini murni didorong oleh sentimen negatif dari pasar global, bukan masalah fundamental ekonomi dalam negeri.
Baca Juga: Mahasiswa ITS Terjun Langsung ke TPS, Intip Cara Pelabuhan Terapkan Standar Mutu Global
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi dan Pengamat mata uang Ariston Tjendra sepakat bahwa ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah menjadi pemicu utamanya.
Meningkatnya ketegangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran membuat pelaku pasar khawatir akan terjadinya gangguan pada rantai pasok energi global.
Kondisi yang belum menemui titik damai ini memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Di sisi lain, ketidakpastian global juga mendorong para investor untuk mencari instrumen investasi yang dianggap lebih aman (safe haven), sehingga aliran dana masuk ke aset dolar AS dan membuat nilai tukarnya semakin perkasa.
Baca Juga: Pakai Rompi Pink dan Diborgol, Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana Digiring ke Mobil Tahanan Kejagung
Menyikapi volatilitas di pasar valas, Bank Indonesia (BI) memastikan tidak akan tinggal diam. Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan bahwa bank sentral akan terus hadir dan memantau perkembangan pasar keuangan global maupun domestik.
"BI terus berada di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga kecukupan likuiditas valas, guna turut mendukung stabilitas pasar keuangan," ungkap Denny dalam keterangan tertulisnya.
Langkah intervensi ini diharapkan mampu menjaga volatilitas nilai tukar agar tetap terkendali, sehingga dampaknya terhadap sektor perdagangan dan daya beli masyarakat luas dapat diminimalisir.
Baca Juga: PLN Group Bakal Dirombak Besar-Besaran, Entitas Dipangkas dari 44 Menjadi 23
Editor : Hany Akasah