RADAR SURABAYA BISNIS — Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) kembali mencatatkan pergerakan yang signifikan di pembukaan bulan ini.
Berdasarkan data pasar teranyar pada Selasa, 2 Juni 2026, mata uang Garuda terpantau melemah hingga menyentuh level Rp17.845,00 per 1 Dolar AS.
Lonjakan mata uang Paman Sam ini kian mempertegas tren tekanan yang dihadapi oleh nilai tukar domestik dalam beberapa waktu terakhir.
Para analis pasar keuangan menilai bahwa fluktuasi tajam ini dipicu oleh kombinasi sentimen global dan domestik.
Keperkasaan Dolar AS secara global didorong oleh ketidakpastian kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed) serta tingginya permintaan terhadap aset safe haven di tengah situasi geopolitik yang dinamis.
Baca Juga: AI Sales Automation Tool: Strategi Penjualan yang Lebih Cerdas
Di sisi lain, dari dalam negeri, aliran modal asing yang keluar (capital outflow) turut menambah beban bagi stabilitas nilai tukar Rupiah.
Pelemahan ini diprediksi akan mulai membawa dampak langsung terhadap pasar domestik, terutama pada melonjaknya biaya impor bahan baku industri dan barang konsumsi.
Jika tren ini berlanjut, masyarakat kemungkinan harus bersiap menghadapi potensi kenaikan harga sejumlah barang di tingkat konsumen akibat efek domino inflasi.
Merespons kondisi tersebut, Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing guna menjaga agar volatilitas Rupiah tidak mengganggu momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Masyarakat dan para pelaku usaha, khususnya yang bergerak di sektor impor, diimbau untuk mengantisipasi dampak kenaikan harga bahan baku akibat pelemahan mata uang ini dengan menerapkan strategi lindung nilai (hedging) yang tepat. (nov/han)
Editor : Hany Akasah