Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Rupiah Makin Melemah, Ini 3 Hal yang Wajib Dihindari Kelas Menengah Menurut Pakar Ekonomi

Hany Akasah • Senin, 1 Juni 2026 | 09:54 WIB
ILUSTRASI: Perbandingan uang kertas Dolar Amerika Serikat dan Rupiah Indonesia.
ILUSTRASI: Perbandingan uang kertas Dolar Amerika Serikat dan Rupiah Indonesia.

RADAR SURABAYA BISNIS – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan tren pelemahan, kini menyentuh level Rp17.881/US$. 

Kenaikan dolar AS ini memicu kekhawatiran terhadap kondisi perekonomian nasional, terutama dampaknya yang berpotensi memukul daya beli kelompok masyarakat kelas menengah ke bawah.

Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad, menjelaskan bahwa depresiasi rupiah akan memicu imported inflation atau inflasi yang berasal dari kenaikan harga produk impor.

Baca Juga: Aturan Baru Pajak 2026, Influencer dan Kreator Konten Resmi Dicoret dari Daftar PPh Final UMKM 0,5 Persen

"Misalnya produk elektronik, kemudian beberapa produk pangan seperti kedelai dan sebagainya, itu kan pasti ikutan naik. Pokoknya produk-produk impor itu akan naik dan itu akan menyebabkan import inflation," ujar Tauhid, Sabtu (30/5/2026).

Pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada harga barang, tetapi juga memaksa Bank Indonesia (BI) mengerek suku bunga acuan hingga menyentuh angka 5,25%. 

Langkah ini otomatis membuat bunga pinjaman seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR), kredit konsumtif, hingga kredit investasi menjadi lebih mahal.

Baca Juga: Tak Hanya Pulau Dewata, Kemenpar Siapkan 10 Destinasi Prioritas untuk Jadi Magnet Baru Investor

Di tingkat makro, kondisi ini memperberat beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama untuk subsidi energi akibat membengkaknya biaya impor minyak di tengah konflik Timur Tengah. Ujungnya, pertumbuhan ekonomi terhambat oleh tingginya biaya produksi dan ketatnya likuiditas.

Menghadapi situasi ekonomi yang menantang ini, Tauhid memberikan peringatan bagi kelas menengah agar terhindar dari kerugian finansial atau boncos. Berikut tiga hal yang wajib dihindari:

Baca Juga: Imbas Konflik Global: Harga Kakao RI Melonjak Tajam, Kerek Harga Patokan Ekspor Hingga 17 Persen

1. Belanja Barang Konsumtif Impor

Seiring naiknya harga barang akibat pelemahan rupiah, masyarakat diminta mengetatkan ikat pinggang. 

"Hindari ya, karena harga-harga barang naik, berarti kan harus agak sedikit ketat untuk barang-barang yang konsumtif. Terutama barang-barang yang berasal dari impor," jelas Tauhid. 

Mengurangi konsumsi produk impor akan sangat membantu mengamankan anggaran bulanan.

2. Mengambil Kredit dengan Bunga Floating (Mengambang)

Kenaikan suku bunga BI dipastikan akan mengerek bunga cicilan di perbankan. Tauhid menyarankan agar masyarakat yang berencana mengambil cicilan kendaraan atau rumah untuk mencari skema bunga tetap (fixed rate). 

"Kalau ada floating, ya berarti kenaikan tingkat suku bunga dia ikut kena. Cari yang manageable (bisa dikelola) bagi mereka," tegasnya.

Baca Juga: Jangan Sampai Boncos, Ini 6 Trik Jitu Menabung ala Jepang yang Patut Ditiru

3. Hanya Mengandalkan Satu Sumber Pendapatan

Strategi berhemat saja dinilai tidak cukup untuk melawan inflasi. Kelas menengah didorong untuk mulai mencari peluang penghasilan tambahan (side hustle). 

"Kalau hanya mengandalkan konsumsi tapi pendapatan tidak ada upaya tambahan, maka juga bisa kalah," kata Tauhid. 

Penambahan pendapatan bisa dilakukan melalui peluang usaha sektor jasa, berdagang, atau pekerjaan lepas lainnya demi menjaga stabilitas keuangan rumah tangga.

Editor : Hany Akasah
#rupiah #kelas menengah #inflasi #dolar #pakar ekonomi