Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Rupiah Diproyeksi Mendekati Rp 18.000 per Dolar AS di Tengah Memanasnya Konflik Timur Tengah

Hany Akasah • Jumat, 29 Mei 2026 | 09:37 WIB
ILUSTRASI: Rupiah yang makin tertekan di tengah memanasnya konflik Timur Tengah
ILUSTRASI: Rupiah yang makin tertekan di tengah memanasnya konflik Timur Tengah

RADAR SURABAYA BISNIS - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih berada dalam tekanan kuat pada perdagangan Jumat (29/5/2026).

Mata uang rupiah bahkan diproyeksi mendekati level psikologis Rp 18.000 per dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Tekanan terhadap rupiah terlihat dari pergerakan di pasar offshore pada perdagangan sebelumnya.

Berdasarkan data Google Finance, rupiah di pasar luar negeri ditutup melemah sekitar 0,46 persen ke posisi Rp 17.865 per dolar AS pada Kamis (28/5/2026).

Baca Juga: Harga Emas Antam Kembali Menguat, Buyback Naik Jelang Akhir Pekan

Bahkan, dalam sesi perdagangan tersebut, rupiah sempat menyentuh level Rp 17.902 per dolar AS pada awal perdagangan sebelum akhirnya ditutup sedikit lebih rendah.

Pergerakan rupiah yang terus tertekan dipicu meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Situasi geopolitik yang memanas membuat pelaku pasar global cenderung memburu aset safe haven seperti dolar AS, sehingga mata uang Negeri Paman Sam kembali menguat terhadap sejumlah mata uang dunia, termasuk rupiah.

Selain mendorong penguatan dolar AS, konflik di Timur Tengah juga meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan distribusi energi global.

Baca Juga: Pemerintah Siapkan Stimulus Rp7,8 Triliun, Diskon Transportasi hingga Bantuan Buat Pencari Kerja

Kawasan tersebut diketahui menjadi salah satu jalur penting perdagangan minyak dunia.

Risiko terganggunya pasokan energi membuat harga minyak mentah dunia kembali melonjak dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini memicu kekhawatiran baru terhadap potensi kenaikan inflasi global.

Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak dinilai memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.

Sebab, lonjakan harga energi dapat meningkatkan kebutuhan impor minyak dan memperbesar permintaan dolar AS di dalam negeri.

Meningkatnya kebutuhan dolar untuk impor energi tersebut membuat tekanan terhadap rupiah semakin besar, terlebih di tengah arus modal asing yang masih cenderung berhati-hati terhadap pasar negara berkembang.

Baca Juga: Pergeseran Tren Idul Adha, Ekonomi Instan di Balik Kurban Online 2026

Pelaku pasar juga masih mencermati perkembangan hubungan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda sepenuhnya.

Analis menilai, selama ketidakpastian global dan harga energi masih tinggi, pergerakan rupiah berpotensi tetap fluktuatif dan berada dalam tekanan pada perdagangan mendatang. (iza/han)

Editor : Hany Akasah
#rupiah #as #dolar #uang #global