radarsurabayabisnis.id - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI kembali menunjukkan performa impresif pada awal tahun 2026. Bank pelat merah terbesar di Indonesia itu berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp15,89 triliun selama empat bulan pertama 2026.
Capaian tersebut tumbuh 5,91 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/yoy), menegaskan posisi BRI sebagai salah satu bank dengan kinerja paling solid di tengah dinamika ekonomi nasional.
Kinerja positif BRI terutama ditopang oleh kenaikan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) yang mencapai Rp39,37 triliun. Angka ini meningkat 7,50 persen secara tahunan.
bankBaca Juga: Sukses Lakukan Transformasi JConnect, Bank Jatim Raih Penghargaan dalam Ajang Digital Innovation Award 2026
Tak hanya itu, efisiensi juga menjadi faktor penting dalam mendongkrak keuntungan perseroan. Beban bunga BRI berhasil ditekan signifikan hingga 16,03 persen menjadi Rp14,12 triliun.
Sementara itu, pendapatan bunga tercatat naik tipis sebesar 0,09 persen menjadi Rp53,50 triliun.
Penyaluran Kredit BRI Tembus Rp1.376 Triliun
Dari sisi bisnis intermediasi, penyaluran kredit BRI terus mencatat pertumbuhan kuat. Hingga April 2026, total kredit yang disalurkan mencapai Rp1.376,35 triliun atau naik 10,97 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Pertumbuhan kredit ini menunjukkan tingginya permintaan pembiayaan dari masyarakat dan pelaku usaha, sekaligus memperlihatkan peran strategis BRI dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Dana Nasabah Naik, Tabungan dan Giro Jadi Andalan
Selain kredit, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) BRI juga mengalami kenaikan. Total DPK tercatat mencapai Rp1.496,3 triliun atau tumbuh 6,84 persen secara tahunan.
Pertumbuhan dana masyarakat terutama berasal dari dana murah atau CASA (current account and savings account).
Simpanan giro melonjak 22,64 persen menjadi Rp455,48 triliun, sedangkan tabungan naik 12,51 persen menjadi Rp603,72 triliun.
Di sisi lain, deposito mengalami penurunan 11,25 persen menjadi Rp437,09 triliun. Kondisi ini mencerminkan pergeseran preferensi nasabah ke instrumen simpanan yang lebih fleksibel.
Pendapatan Komisi Masih Tumbuh
BRI juga masih mencatat pertumbuhan pendapatan berbasis komisi atau fee based income. Pendapatan komisi dan provisi naik 2,99 persen secara tahunan menjadi Rp6,88 triliun.
Sementara itu, beban provisi meningkat tipis sebesar 1,98 persen menjadi Rp14,63 triliun.
Risiko Kredit Tetap Terjaga
Meski agresif menyalurkan kredit, kualitas aset dan risiko kredit BRI tetap berada dalam level terkendali.
Hal itu tercermin dari rasio biaya kredit atau cost of credit (CoC) yang berada di level 3,24 persen pada empat bulan pertama 2026. Adapun posisi CoC per April 2026 tercatat sebesar 3,33 persen.
Kondisi ini menunjukkan kemampuan BRI dalam menjaga kualitas pembiayaan di tengah ekspansi bisnis yang terus tumbuh.
Editor : Hany Akasah