Rupiah Offshore Nyaris Sentuh Rp 17.900 per Dolar AS, Tekanan Global Kian Berat

Hany Akasah • Dipublikasikan Kamis, 28 Mei 2026 | 11:16 WIB
ILUSTRASI: Rupiah semakin bergerak fluktuatif seiring lonjakan harga minyak dunia dan konflik Timur Tengah
ILUSTRASI: Rupiah semakin bergerak fluktuatif seiring lonjakan harga minyak dunia dan konflik Timur Tengah

RADAR SURABAYA BISNIS - Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar luar negeri kembali menunjukkan tekanan yang cukup besar.

Saat pasar domestik libur memperingati Idul Adha, rupiah di pasar offshore atau Non-Deliverable Forward (NDF) bergerak liar dan nyaris menyentuh level Rp 17.900 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada sesi perdagangan luar negeri sempat menyentuh posisi Rp 17.892 per dolar AS pada pukul 23.59 WIB.

Angka tersebut menjadi salah satu level pelemahan terdalam rupiah dalam beberapa waktu terakhir.

Baca Juga: Harga Sembako Surabaya, Gresik, Sidoarjo Kamis 28 Mei 2026, Cabai dan Bawang Naik

Meski demikian, rupiah berhasil ditutup sedikit lebih baik di posisi Rp 17.886 per dolar AS atau melemah sekitar 0,25 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan hari ini, Kamis (28/5/2026), rupiah di pasar NDF dibuka stagnan sebelum akhirnya bergerak menguat terbatas.

Hingga pukul 06.02 WIB, mata uang rupiah tercatat menguat sekitar 0,22 persen ke posisi Rp 17.846 per dolar AS.

Pergerakan mata uang di kawasan Asia sendiri terlihat cenderung bervariasi pada awal perdagangan pagi ini.

Baca Juga: Harga Emas Antam dan Buyback Kompak Melemah pada Perdagangan Hari Ini

Yuan offshore tercatat menguat tipis sekitar 0,03 persen, sementara yen Jepang naik sekitar 0,01 persen terhadap dolar AS.

Sebaliknya, dolar Singapura justru mengalami pelemahan terbatas sekitar 0,01 persen pada perdagangan pagi hari.

Fluktuasi mata uang Asia, termasuk rupiah, dipengaruhi kembali naiknya harga minyak mentah dunia setelah sebelumnya sempat terkoreksi tajam lebih dari lima persen pada perdagangan sehari sebelumnya.

Kenaikan harga energi terjadi karena pasar masih dibayangi ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.

Amerika Serikat dan Iran hingga kini disebut belum mencapai kesepakatan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur penting distribusi minyak dunia.

Situasi semakin memanas setelah muncul laporan mengenai serangan militer baru di wilayah Iran yang kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global.

Baca Juga: Perputaran Uang Kurban 2026 Diproyeksikan Capai Rp26 Triliun, Sapi Mendominasi

Pada perdagangan pagi ini, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik mendekati level US$ 90 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent berada di kisaran US$ 94 per barel.

Meski harga minyak kembali menguat, pasar global masih menaruh harapan adanya kesepakatan sementara antara AS dan Iran terkait pembukaan jalur perdagangan energi tersebut, walaupun proses negosiasi dinilai masih penuh tantangan.

Kondisi geopolitik dan fluktuasi harga energi dunia diperkirakan masih akan menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah dalam beberapa waktu ke depan. (iza/han)

Editor : Hany Akasah
Sumber : radar surabaya bisnis
rupiah as dolar uang global