RADAR SURABAYA BISNIS — Perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin dinamis turut mengubah lanskap bisnis keuangan di Indonesia.
Salah satu tren yang kini menunjukkan pertumbuhan eksponensial adalah layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau yang lebih akrab disapa paylater.
Layanan yang menawarkan fleksibilitas bertransaksi tanpa harus membayar penuh di awal ini kini tidak lagi terbatas pada pembelanjaan daring (e-commerce).
Ekosistem paylater telah merambah ke berbagai sektor ritel, mulai dari pemenuhan kebutuhan harian, kuliner, hingga pembiayaan perjalanan dan liburan.
Menurut laporan terbaru dari pelaku industri seperti SPayLater, daya tarik utama fasilitas ini terletak pada kemampuannya menjaga keseimbangan arus kas (cash flow) konsumen.
Berbagai platform saling bersaing menghadirkan keuntungan tambahan, mulai dari promo rutin hingga opsi cicilan 0 persen yang memungkinkan pengguna membagi beban pembayaran tanpa biaya tambahan.
Baca Juga: Indonesia Bertahan di Peringkat 13 Emerging Markets FDI Confidence Index 2026
Hal ini membuat paylater dinilai bukan sekadar soal kemudahan, melainkan strategi konsumen untuk memaksimalkan nilai dari setiap transaksi.
Kendati menawarkan segudang kemudahan yang mendongkrak daya beli masyarakat, literasi keuangan yang rendah dapat mengubah layanan ini menjadi bumerang.
Juru Bicara Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Sekar Putih Djarot, mengingatkan bahwa pada dasarnya paylater adalah layanan menunda pembayaran atau berutang yang wajib dilunasi di kemudian hari.
Baca Juga: Update Harga Sembako Surabaya, Gresik, Sidoarjo Selasa 26 Mei 2026: Cabai Kembali Melambung
Data dari Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kementerian Keuangan menyoroti empat risiko utama yang mengintai pengguna paylater jika tidak digunakan dengan bijak.
Pertama, terganggunya pengaturan keuangan pribadi karena dana yang seharusnya dialokasikan untuk kebutuhan mendesak justru terpakai untuk membayar cicilan.
Kedua, adanya biaya yang kerap tidak disadari pengguna seperti biaya subscription maupun denda keterlambatan akibat kebiasaan menyetujui syarat dan ketentuan tanpa membacanya secara detail.
Baca Juga: Rupiah Dibuka Melemah di Tengah Optimisme Pembukaan Selat Hormuz
Ketiga, memicu perilaku konsumtif berlebih. Kemudahan bertransaksi dan godaan diskon seringkali mendorong belanja impulsif yang berujung pada kecanduan utang.
Keempat, risiko keamanan siber seperti peretasan identitas, di mana data pribadi pengguna rentan disalahgunakan oleh pihak tidak bertanggung jawab.
Menyikapi fenomena bisnis ini, konsumen dituntut untuk memiliki kendali penuh atas keuangannya. Kehadiran inovasi teknologi finansial seperti paylater tidaklah salah, selama digunakan secara terukur, sesuai dengan kemampuan bayar, dan memanfaatkan promo yang benar-benar relevan dengan kebutuhan, bukan sekadar menuruti gaya hidup semata.
Baca Juga: Harga Emas Antam Berbalik Turun, Buyback Ikut Melemah
Editor : Hany Akasah