Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Rupiah Dibuka Melemah di Tengah Optimisme Pembukaan Selat Hormuz

Hany Akasah • Selasa, 26 Mei 2026 | 09:32 WIB
ILUSTRASI: Rupiah yang dibuka melemah tipis di tengah optimisme pembukaan kembali Selat Hormuz
ILUSTRASI: Rupiah yang dibuka melemah tipis di tengah optimisme pembukaan kembali Selat Hormuz

RADAR SURABAYA BISNIS - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami pelemahan pada pembukaan perdagangan Selasa (26/5/2026).

Mata uang rupiah masih bergerak di zona merah di tengah dinamika pasar global dan sentimen geopolitik internasional.

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB di pasar spot exchange, rupiah dibuka melemah sekitar 13 poin atau 0,07 persen ke level Rp 17.757 per dolar AS.

Pelemahan rupiah terjadi meski indeks dolar AS justru tercatat mengalami penurunan. Indeks dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia turun sekitar 0,17 persen ke posisi 99.070 pada perdagangan pagi ini.

Baca Juga: Harga Emas Antam Berbalik Turun, Buyback Ikut Melemah

Di pasar global, sejumlah mata uang utama dunia menunjukkan pergerakan yang cenderung stabil.

Mata uang euro masih mempertahankan penguatannya dan diperdagangkan di level US$ 1,16365 per dolar AS.

Sementara itu, yen Jepang berada di kisaran 158,95 per dolar AS. Adapun dolar Australia tercatat bergerak stabil di level US$ 0,71665 per dolar AS.

Mengutip laporan MarketScreener, pelemahan dolar AS pada perdagangan hari ini dipengaruhi meningkatnya optimisme investor terhadap peluang tercapainya kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Baca Juga: Cuan dari Ampas Kopi, Inovasi BRIN Buka Peluang Emas untuk Industri Kosmetik dan Pangan

Harapan terbukanya jalur perdagangan energi tersebut dinilai mampu meredakan ketegangan geopolitik dan mengurangi gangguan pasokan minyak dunia yang selama ini menjadi perhatian pasar global.

Meski dolar AS secara global melemah, tekanan terhadap rupiah masih belum sepenuhnya mereda.

Pelaku pasar masih mencermati perkembangan geopolitik internasional, pergerakan harga energi, serta arus modal asing yang memengaruhi stabilitas mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Pergerakan rupiah dalam beberapa waktu terakhir juga masih dibayangi tingginya volatilitas pasar keuangan global di tengah ketidakpastian ekonomi dan konflik geopolitik yang belum sepenuhnya mereda. (iza/han)

Editor : Hany Akasah
#rupiah #hormuz #as #dolar #uang