radarsurabayabisnis.id - Kekhawatiran akan terulangnya krisis moneter 1998 kembali menghantui masyarakat di tengah pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp17.700 per dolar Amerika Serikat (AS). Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skenario buruk tersebut tidak akan terjadi, dengan janji adanya gelombang besar suplai dolar pada pertengahan tahun ini.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta masyarakat untuk tidak panik merespons pelemahan rupiah yang saat ini terus berlanjut. Dalam acara Jogja Financial Festival 2026, Jumat (22/5), ia menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia berbeda jauh dibandingkan menjelang krisis 1998.
Baca Juga: Buntut Rupiah Tembus Rp17.646 per Dolar AS, Kenaikan Harga dan PHK Mengintai
"Masyarakat gak usah takut kalau ada yang ribut-ribut rupiah akan jlebok seperti di '98. Nanti Juni akan ada suplai dolar yang signifikan ke ekonomi kita. Rupiah akan menguat sampai 15.000," ujar Purbaya dengan tegas di hadapan para peserta festival.
Pernyataan ini dirilis bertepatan dengan kondisi pasar yang kurang menggembirakan. Berdasarkan data perdagangan siang hari Jumat (22/5/2026), nilai tukar rupiah bergerak di kisaran level Rp17.709 hingga Rp17.715 per dolar AS. Secara harian, mata uang Garuda masih melanjutkan tren pelemahan sebesar 0,22% atau turun 39 poin sejak pembukaan pasar spot pagi tadi.
Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) telah mengambil langkah dramatis dengan menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25%. Langkah ini tergolong agresif dan mengejutkan pelaku pasar, mengingat BI mempertahankan suku bunga di level 4,75% selama delapan bulan berturut-turut.
Kenaikan bunga acuan tersebut diharapkan dapat menarik aliran modal asing masuk, namun dampaknya terhadap penguatan rupih masih terbilang terbatas. Pasar tampaknya masih menunggu kepastian mengenai sumber "suplai dolar besar-besaran" yang dijanjikan Menteri Keuangan.
Baca Juga: Forbes Advisor Rilis Daftar Mata Uang Terlemah 2026, Rupiah Turut Masuk Daftar
Para ekonom yang dihubungi terpisah menyatakan bahwa janji suplai dolar di Juni 2026 kemungkinan merujuk pada dividen perusahaan tambang, penerbitan surat berharga global, atau realisasi investasi asing langsung. Namun, tanpa rincian lebih lanjut, pernyataan tersebut dinilai masih bersifat sentimen jangka pendek.
Masyarakat diimbau untuk tetap rasional dan fokus pada perencanaan keuangan pribadi. Pelemahan rupiah memang meningkatkan harga barang impor, namun berbeda dengan krisis 1998 di mana utang swasta luar negeri membengkak tak terkendali dan sistem perbankan kolaps. Saat ini, cadangan devisa Indonesia masih relatif memadai.
Pemerintah optimistis target penguatan ke level Rp15.000 dapat tercapai pasca-Juni, namun hingga berita ini diturunkan, pelaku pasar masih mencermati setiap pergerakan dolar AS yang terus perkasa akibat suku bunga acuan global yang tinggi.
Editor : Hany Akasah