Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Buntut Rupiah Tembus Rp17.646 per Dolar AS, Kenaikan Harga dan PHK Mengintai

Hany Akasah • Jumat, 22 Mei 2026 | 16:14 WIB
Tidak hanya biaya produksi, pelemahan rupiah juga mulai memukul daya beli masyarakat.
Tidak hanya biaya produksi, pelemahan rupiah juga mulai memukul daya beli masyarakat.

radarsurabayabisnis.id - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menembus Rp17.646 per dolar AS mulai memicu kekhawatiran serius di kalangan dunia usaha. Kondisi ini dinilai dapat memberi tekanan besar terhadap industri nasional, mulai dari lonjakan biaya produksi, penurunan daya beli masyarakat, hingga ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK).

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, mengatakan gejolak kurs rupiah saat ini menjadi tantangan berat bagi pelaku usaha, terutama industri yang masih bergantung pada bahan baku impor.

Baca Juga: Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp 7.685 Triliun pada Triwulan I 2026

“Pelemahan nilai tukar rupiah memberikan dampak berlapis terhadap dunia usaha dan industri nasional. Ada tiga dampak utama yang mulai dirasakan pelaku usaha, mulai dari kenaikan biaya produksi hingga melemahnya daya saing industri,” ujar Adik di Surabaya, Jumat (22/5).

Biaya Produksi Naik, Industri Tertekan

Menurut Adik, dampak paling terasa saat ini adalah kenaikan biaya produksi akibat tingginya ketergantungan industri nasional terhadap bahan baku impor berbasis dolar AS.

Sejumlah komoditas seperti besi, baja, plastik, bahan kimia, hingga komponen elektronik masih didominasi impor. Bahkan, ketergantungan impor bahan baku industri manufaktur Indonesia disebut masih berada di atas 70 persen.

Baca Juga: Dolar AS Masih Perkasa, Rupiah Kembali Tertekan pada Perdagangan Jumat

Akibatnya, sektor manufaktur, farmasi, otomotif, hingga tekstil menjadi industri yang paling terdampak pelemahan rupiah.

“Margin keuntungan pengusaha ikut tergerus karena biaya produksi meningkat, sementara harga jual produk tidak bisa langsung dinaikkan ke pasar,” katanya.

Daya Beli Melemah, Ancaman PHK Mengintai

Tidak hanya biaya produksi, pelemahan rupiah juga mulai memukul daya beli masyarakat. Harga barang berpotensi naik, sementara pendapatan masyarakat cenderung stagnan.

Situasi tersebut membuat banyak pelaku usaha mulai melakukan efisiensi produksi dan menahan pembelian bahan baku karena khawatir permintaan pasar melemah.

“Pendapatan masyarakat tetap, sementara harga barang naik. Ini jadi problem daya beli. Akhirnya pengusaha membatasi impor bahan baku dan mengurangi produksi. Kalau lama-kelamaan begini, ancaman PHK akan terus mengintai,” ujar Adik.

Sebagai langkah bertahan, sebagian pengusaha memilih mengurangi margin keuntungan dibandingkan langsung menaikkan harga produk kepada konsumen.

“Mungkin selain efisiensi, yang dilakukan pengusaha adalah mengurangi keuntungan. Jadi tidak menaikkan harga dulu sementara, tetapi mengurangi keuntungan. Namun itu juga tidak bisa terlalu lama,” katanya.

Produk Lokal Dinilai Bisa Jadi Peluang

Di tengah tekanan ekonomi global, Adik menilai produk lokal justru memiliki peluang lebih kompetitif dibandingkan barang impor, terutama sektor pertanian dan peternakan yang menggunakan bahan baku domestik.

Komoditas seperti jeruk dan durian disebut memiliki peluang besar untuk bersaing karena tidak terlalu bergantung pada impor maupun fluktuasi dolar AS.

“Produk-produk yang betul-betul lokal ini bisa lebih kompetitif dibandingkan produk impor sejenis. Contohnya petani jeruk atau durian, mereka bisa lebih unggul dibandingkan produk impor langsung dari luar negeri,” ujarnya.

Baca Juga: Warga Doyan Mie dan Tempe, RI Tetap Andalkan Impor Bahan Baku Hingga Capai Triliunan Rupiah

Menurutnya, sektor pertanian dan peternakan masih menjadi kekuatan utama Jawa Timur dalam menopang ekonomi daerah.

“Produk pertanian dan peternakan Jawa Timur masih surplus. Itu salah satu kekuatan Jawa Timur,” katanya.

Pemerintah Diminta Perkuat Infrastruktur dan Bansos

Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini masih dinilai cukup baik, Adik memperingatkan kondisi tersebut bisa terkoreksi apabila pelemahan rupiah berlangsung dalam waktu lama.

Karena itu, Kadin Jatim mendorong pemerintah melakukan realokasi anggaran ke sektor yang mampu menyerap tenaga kerja besar, seperti pembangunan infrastruktur.

“Infrastruktur itu menyerap tenaga kerja dan memicu perputaran ekonomi,” katanya.

Selain itu, pemerintah juga diminta memperkuat program bantuan sosial dan bantuan tunai untuk menjaga daya beli masyarakat.

“Yang paling diperlukan sekarang bansos dan bantuan tunai. Jadi daya beli masyarakat bisa naik lagi dan pengusaha juga terbantu,” ujarnya.

Meski tekanan ekonomi global masih tinggi, Adik tetap optimistis pemerintah mampu menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus memastikan dunia usaha tetap bertahan.

“Kita sebagai pengusaha tidak boleh pesimis. Kita percayakan kepada pemerintah, tetapi tetap harus memakai strategi untuk menjaga usaha tetap berjalan,” pungkasnya.

Editor : Hany Akasah
#kenaikan harga #rupiah ambyar #dunia usaha #kadin #phk