RADAR SURABAYA BISNIS - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami pelemahan pada perdagangan Jumat (22/5) pagi.
Mata uang rupiah masih berada di bawah tekanan di tengah meningkatnya ketidakpastian global, khususnya terkait konflik di Timur Tengah dan penguatan dolar AS di pasar internasional.
Berdasarkan data perdagangan Bloomberg pada pukul 09.05 WIB di pasar spot exchange, rupiah tercatat melemah sekitar 16 poin atau 0,09 persen ke posisi Rp 17.683 per dolar AS.
Meski demikian, indeks dolar AS terpantau bergerak relatif stabil dengan kecenderungan melemah tipis sekitar 0,02 persen ke level 99,236.
Baca Juga: Harga Emas Antam Kembali Merosot, Buyback Ikut Melemah
Namun, dolar AS sebelumnya sempat menguat signifikan dan menyentuh level tertinggi dalam sekitar enam pekan terakhir.
Penguatan dolar AS dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah, terutama terkait ketidakpastian proses perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.
Ketegangan yang masih berlangsung membuat pasar global cenderung mencari aset aman atau safe haven, sehingga permintaan terhadap dolar AS kembali meningkat.
Sejumlah mata uang utama dunia juga ikut mengalami tekanan terhadap dolar AS.
Baca Juga: Dua Pabrik LPG Swasta Baru Lolos Uji Coba, Siap Dorong Kapasitas Produksi Nasional
Mata uang euro tercatat melemah terhadap dolar, begitu pula poundsterling Inggris yang bergerak turun di tengah meningkatnya sentimen kehati-hatian investor global.
Yen Jepang pun ikut berada di zona merah terhadap dolar AS seiring pasar yang masih dibayangi ketidakpastian ekonomi dan geopolitik dunia.
Selain faktor geopolitik, lonjakan harga energi akibat terganggunya pasokan minyak global juga menjadi perhatian utama pasar.
Konflik yang berkepanjangan di kawasan Timur Tengah dinilai berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global, khususnya di Amerika Serikat.
Baca Juga: Aturan Baru Ekspor Berlaku 1 Juni 2026, Pengusaha Wajib Lapor ke PT Danantara
Kondisi tersebut membuat dolar AS tetap kuat karena pasar memperkirakan bank sentral AS masih akan mempertahankan kebijakan moneter ketat untuk menahan inflasi.
Tekanan eksternal tersebut akhirnya turut membebani mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Pelaku pasar kini masih mencermati perkembangan konflik global, pergerakan harga minyak dunia, serta arah kebijakan suku bunga global yang diperkirakan akan sangat memengaruhi pergerakan rupiah dalam waktu dekat. (iza/han)
Editor : Hany Akasah