RADAR SURABAYA BISNIS - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali bergerak melemah pada pembukaan perdagangan Kamis (21/5).
Tekanan terhadap mata uang rupiah masih berlanjut meski Bank Indonesia (BI) telah mengambil langkah pengetatan kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga acuan.
Berdasarkan data perdagangan Bloomberg, rupiah dibuka melemah sekitar 0,2 persen ke posisi Rp 17.640 per dolar AS.
Tak lama setelah pembukaan perdagangan, pelemahan rupiah kembali berlanjut hingga menyentuh level Rp 17.643 per dolar AS atau turun sekitar 0,22 persen.
Baca Juga: Emas Antam Rebound, Harga Buyback Juga Ikut Meroket
Pergerakan rupiah yang masih lesu menunjukkan tekanan eksternal terhadap pasar keuangan domestik masih cukup kuat.
Kenaikan suku bunga acuan BI sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen belum mampu sepenuhnya meredakan tekanan terhadap nilai tukar.
Di kawasan Asia, rupiah bergerak melemah bersama sejumlah mata uang lainnya seperti won Korea Selatan dan dolar Singapura.
Sementara itu, mayoritas mata uang Asia lainnya justru bergerak di zona hijau terhadap dolar AS.
Baca Juga: Mau Ajukan KPR atau Pinjaman? Cek Dulu Skor Kreditmu di iDebku OJK, Ini Caranya
Pasar global saat ini masih dibayangi kekhawatiran terhadap kenaikan inflasi akibat tingginya harga minyak dunia.
Lonjakan harga energi memicu kenaikan imbal hasil obligasi global, terutama obligasi Amerika Serikat, yang kemudian meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar AS.
Kondisi tersebut berpotensi mendorong arus modal keluar atau capital outflow dari negara berkembang di kawasan Asia, termasuk Indonesia.
Investor global cenderung memindahkan dananya ke aset yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik dunia.
Tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi sentimen pasar yang masih berhati-hati terhadap perkembangan konflik global dan arah kebijakan suku bunga bank sentral utama dunia.
Baca Juga: Transaksi Makin Transparan, Tata Kelola Pembayaran Dam Haji RI Cetak Sejarah Baru
Meski demikian, langkah Bank Indonesia menaikkan suku bunga dinilai sebagai upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta mengendalikan risiko inflasi domestik di tengah gejolak global yang masih berlangsung.
Pelaku pasar kini masih mencermati perkembangan harga minyak dunia, pergerakan dolar AS, serta arah kebijakan moneter global yang diperkirakan akan terus memengaruhi pergerakan rupiah dalam jangka pendek. (iza/han)
Editor : Hany Akasah