RADAR SURABAYA BISNIS – Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Indonesia berhasil mencatatkan kinerja impresif dengan pertumbuhan ekonomi Triwulan I-2026 mencapai 5,61 persen.
Angka ini melampaui rata-rata pertumbuhan negara-negara anggota G20 dan ASEAN. Momentum positif ini langsung direspons pemerintah dengan mempercepat penyelesaian hambatan investasi di berbagai kawasan strategis guna menjaga iklim bisnis yang kondusif.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan bahwa capaian ekonomi tersebut ditopang kuat oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga sebesar 5,52 persen dan konsumsi pemerintah yang mencapai 21,8 persen berkat akselerasi kebijakan fiskal.
Baca Juga: Ikuti Arahan Presiden, Gojek Pangkas Potongan Driver Jadi 8 Persen dan Hapus GoRide Hemat Berbayar
"Kalau lihat dari pertumbuhannya saja, 5,5 untuk belanja masyarakat itu angka yang tertinggi. Jadi ketika ada yang bilang pertumbuhan didukung oleh hanya belanja pemerintah, ternyata salah baca," tegas Menkeu Purbaya dalam Konferensi Pers APBN Kita, Selasa (19/5).
Stabilitas makroekonomi ini juga didukung oleh tingkat inflasi yang terkendali di level 2,42 persen pada April 2026, serta sinergi fiskal dan moneter yang kuat.
Pemerintah menempatkan dana sebesar Rp200 triliun di Bank Himbara untuk membantu likuiditas sistem perekonomian, yang bertujuan mendorong penurunan suku bunga deposito dan kredit ke sektor riil.
Baca Juga: Militer Israel Cegat Global Sumud Flotilla, Dewan Pers Kecam Penangkapan Jurnalis dan WNI
Dengan tren penjualan ritel seperti mobil dan motor yang melonjak usai libur Lebaran, pemerintah optimistis daya beli masyarakat dan geliat investasi akan terus menopang pertumbuhan di Triwulan II-2026.
Editor : Hany Akasah