RADAR SURABAYA BISNIS - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali bergerak melemah pada pembukaan perdagangan Rabu (20/5).
Tekanan terhadap mata uang rupiah masih berlanjut di tengah penguatan dolar AS serta kenaikan harga energi dunia yang terus membebani pasar keuangan negara berkembang.
Dilansir dari Bloomberg, pada awal perdagangan, rupiah tercatat melemah sekitar 0,31 persen ke posisi Rp 17.760 per dolar AS.
Namun, hingga pukul 09.05 WIB, pelemahan rupiah sedikit berkurang dan bergerak di level Rp 17.743 per dolar AS atau melemah sekitar 0,21 persen.
Baca Juga: Harga Sembako Surabaya, Gresik, Sidoarjo Rabu 20 Mei 2026, Minyak Goreng dan Cabai Naik
Tekanan terhadap rupiah terjadi seiring kuatnya dolar AS di pasar global.
Selain itu, lonjakan harga minyak mentah dunia yang berlangsung dalam waktu cukup lama turut menjadi faktor utama yang membebani pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Di kawasan Asia, pergerakan mata uang terlihat bervariasi meski mayoritas masih berada di zona merah.
Baht Thailand, rupiah, ringgit Malaysia, dolar Taiwan, dolar Hong Kong, hingga dolar Singapura tercatat sama-sama mengalami pelemahan terhadap dolar AS.
Baca Juga: Harga Emas Antam dan Buyback Kompak Bergerak di Zona Merah
Sementara itu, beberapa mata uang Asia lainnya berhasil bergerak menguat. Won Korea Selatan memimpin penguatan setelah naik sekitar 0,25 persen.
Yuan China dan yen Jepang juga berhasil rebound meski penguatannya masih terbatas.
Kenaikan harga minyak mentah global dinilai semakin memperburuk persepsi risiko terhadap negara-negara importir energi seperti Indonesia.
Harga energi yang tinggi berpotensi menekan neraca perdagangan serta meningkatkan tekanan inflasi domestik.
Kondisi tersebut membuat ruang stabilisasi rupiah menjadi semakin terbatas.
Pasar juga masih mencermati langkah-langkah yang dilakukan Bank Indonesia (BI) untuk menjaga kestabilan nilai tukar di tengah tingginya volatilitas global.
Baca Juga: Google Batasi Ruang Penyimpanan Gmail Akun Baru, Ini Cara Mengatasinya
Meski BI terus melakukan intervensi di pasar keuangan, fluktuasi rupiah dinilai masih belum sepenuhnya mereda.
Tekanan eksternal yang kuat membuat pergerakan rupiah masih rentan mengalami pelemahan dalam jangka pendek.
Pelaku pasar kini menaruh perhatian besar terhadap perkembangan harga minyak dunia, arah kebijakan suku bunga global, serta dinamika geopolitik internasional yang dinilai akan sangat memengaruhi pergerakan rupiah ke depan. (iza/han)
Editor : Hany Akasah