radarsurabayabisnis.id - Puluhan biduan dangdut melaporkan dugaan kasus penipuan dan penggelapan ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polrestabes Surabaya, Senin (18/5). Mereka mengaku menjadi korban arisan bodong dengan total kerugian mencapai Rp2,2 miliar.
Terlapor berinisial NS, warga Sememi, Benowo, Surabaya, diduga menjalankan modus penjualan slot arisan dengan iming-iming keuntungan besar dalam waktu singkat.
Salah satu korban, Dea, mengatakan terlapor menawarkan keuntungan 10 hingga 20 persen dari nominal uang yang disetor korban.
Baca Juga: Dijuluki Chicken of the Sea, Ikan Nila RI Makin Diburu Pasar Global
“Modusnya dia menjual arisan dengan nominal misal Rp1 juta nanti dapat keuntungan 10 persen sampai 20 persen dalam waktu singkat. Korban ada 84 orang,” ujarnya di Mapolrestabes Surabaya.
Menurut Dea, banyak korban tergiur karena tergiur keuntungan cepat sekaligus rasa percaya terhadap NS yang masih satu profesi sebagai penyanyi dangdut. Para korban mengenal terlapor dari panggung ke panggung sehingga tidak menaruh curiga.
“Sama-sama penyanyi, kenal dari panggung ke panggung. Kita percaya karena lihat kehidupannya di media sosial terlihat glamor. Nggak nyangka karena mereka teman dekat,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, sebagian korban sempat menerima keuntungan pada awal bergabung. Namun dana tersebut disebut kembali diputar dengan cara diarahkan membeli slot arisan baru tanpa pencairan tunai.
Baca Juga: Cara Tak Biasa Peternak Surabaya Rawat Sapi Kurban, Dipijat hingga Diajak Ngobrol
“Kalau pencairan belum sempat cair, malah ditawari beli lagi dan langsung dipotong untuk pembelian arisan,” katanya.
Kecurigaan mulai muncul sejak Februari 2026 ketika pencairan dana disebut mulai macet dan NS sulit dihubungi. Kerugian tiap korban bervariasi, dengan nominal tertinggi mencapai Rp195 juta.
“Kalau total kerugian sama keuntungan sekitar Rp2,2 miliar. Kalau pokoknya saja Rp1,8 miliar,” tegas Dea.
Korban juga menyebut keluarga NS sempat menjanjikan penyelesaian dalam waktu dua pekan. Namun sebelum tenggat waktu berakhir, keberadaan terlapor disebut tidak lagi diketahui.
“Tapi sebelum dua minggu, NS ini nggak ada. Hilang, nggak tahu ke mana,” ujarnya.
Para korban berharap polisi segera menangkap terlapor karena jumlah korban disebut mencapai 84 orang dari berbagai daerah, seperti Surabaya, Sidoarjo, Lamongan, Gresik, hingga Mojokerto.
Editor : Hany Akasah