Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Menghadapi Tekanan Kurs, Menilik Kembali Tiga Jurus Jitu BJ Habibie Jinakkan Dolar AS

Hany Akasah • Senin, 18 Mei 2026 | 13:45 WIB
AKSI: Strategi Presiden ke-3 RI, B.J. Habibie, saat restrukturisasi perbankan dan independensi Bank Indonesia yang diinisiasinya terbukti ampuh menekan dolar AS hingga ke level Rp6.550 pada masanya.
AKSI: Strategi Presiden ke-3 RI, B.J. Habibie, saat restrukturisasi perbankan dan independensi Bank Indonesia yang diinisiasinya terbukti ampuh menekan dolar AS hingga ke level Rp6.550 pada masanya.

RADAR SURABAYA BISNIS – Pergerakan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan tajam publik setelah mencatatkan tren pelemahan di pertengahan Mei 2026. 

Berdasarkan data pasar terbaru, mata uang Garuda sempat menyentuh level psikologis yang cukup berat. Situasi ini secara otomatis membangkitkan ingatan publik pada memori krisis moneter 1998, sekaligus memicu diskusi mengenai strategi apa yang paling efektif untuk meredam gejolak nilai tukar saat ini.

Melihat ke belakang, Indonesia sebenarnya memiliki blue print keberhasilan dalam mengatasi depresiasi mata uang yang ekstrem. Sosok di balik keberhasilan tersebut tidak lain adalah Presiden ke-3 RI, Bacharuddin Jusuf (B.J.) Habibie.

Baca Juga: Mentan Ungkap Indonesia Mulai Ekspor Pupuk Urea Rp 7 Triliun ke Australia

Meski awalnya diragukan oleh berbagai kritikus Orde Baru hingga pemimpin negara tetangga karena tidak memiliki latar belakang formal di bidang ekonomi, sang teknokrat pembuat pesawat tersebut justru berhasil membalikkan prediksi. Habibie sukses menekan dolar AS dari kisaran Rp16.000 ke level Rp6.550 lewat tiga strategi struktural berikut:

Baca Juga: BEI Jatim Dorong Generasi Muda Transisi dari Saving Society Menjadi Investing Society

1. Restrukturisasi Perbankan secara Total

Langkah awal dan paling krusial yang diambil Habibie adalah membenahi sektor perbankan yang carut-marut akibat kebijakan Paket Oktober (Pakto) 1988. 

Habibie melakukan langkah berani dengan melikuidasi bank-bank bermasalah dan menggabungkan empat bank milik pemerintah menjadi satu entitas baru, yang kini kita kenal sebagai Bank Mandiri.

Selain itu, Habibie meletakkan fondasi independensi moneter dengan memisahkan Bank Indonesia (BI) dari intervensi pemerintah melalui UU No. 23 Tahun 1999.

Menurut otobiografinya, B.J. Habibie: Detik-detik yang Menentukan, langkah ini diambil agar BI dapat bekerja secara objektif dan bebas dari kepentingan politik demi menguatkan rupiah.

Baca Juga: BI Ikut Borong Emas, Cadangan Bertambah 2 Ton pada Awal 2026

 

2. Penerapan Kebijakan Moneter Ketat

Untuk menyedot kembali jumlah uang beredar di masyarakat yang memicu inflasi tinggi, pemerintahan Habibie menerbitkan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan suku bunga yang sangat tinggi, bahkan sempat menyentuh angka 60%.

Kebijakan moneter ketat ini terbukti ampuh mengembalikan kepercayaan masyarakat untuk menyimpan dana mereka di bank. Perlahan tapi pasti, tingkat inflasi mulai terkendali dan kepercayaan terhadap sistem perbankan nasional kembali pulih. Suku bunga pun secara bertahap berhasil diturunkan hingga ke level belasan persen.

Baca Juga: Rupiah Tembus Rp 17.600! Pakar Keuangan Imbau Masyarakat Lakukan Strategi Ini Agar Tabungan Aman

3. Pengendalian Ketat Harga Bahan Pokok

Habibie menyadari bahwa stabilitas nilai tukar tidak akan berarti jika perut rakyat menjerit. Oleh karena itu, ia memastikan harga kebutuhan vital seperti tarif listrik dan BBM subsidi tetap terjaga agar daya beli masyarakat di akar rumput tidak ambruk di tengah krisis.

Strategi ini sempat diwarnai imbauan kontroversial, di mana Habibie mengajak masyarakat untuk melakukan puasa Senin-Kamis demi menghemat konsumsi nasional. 

Kendati memancing perdebatan, kombinasi kebijakan ekonomi makro dan mikro ini terbukti berhasil memulihkan kepercayaan pasar global. Aliran modal asing (capital inflow) kembali masuk ke Indonesia, dan rupiah pun berhasil dijinakkan ke level Rp6.550 per dolar AS.

Baca Juga: Diresmikan Presiden Prabowo, Museum Marsinah Rp3,8 Miliar Jadi Motor Baru Ekonomi Warga Nganjuk, Dibangun Mandiri Tanpa APBN

Sejarah mencatat bahwa kombinasi dari independensi bank sentral, keberanian restrukturisasi, dan pemulihan kepercayaan pasar adalah kunci utama stabilitas moneter.

Pelajaran berharga dari era Habibie ini tetap relevan untuk dijadikan kompas bagi pembuat kebijakan dalam menghadapi dinamika ekonomi global saat ini.

Editor : Hany Akasah
#rupiah #bj habibie #moneter #dolar #krisis